mindis.id
Latest News
Sunday, September 25, 2016

Gerobak Dorong Rahasia Illahi

Baca Juga


Selamat datang pagiku, udara segarmu membangkitkan semangat di jiwaku. Terik matahari seperti berada tepat di atas kepalaku. Panasmu semakin membakar tubuhku, namun aku harus tetap menyambutmu dengan semangat yang tak akan pernah pudar dimakan waktu.
 
Gerobak bututku, mengajak langkahku menuju pangkalan angkot tempat pemberhetian terakhirku menjajakkan makanan daganganku. Setiap pagi aku harus menempuh jarak 10 km dari tempat tinggalku menuju pangkalan angkot. Dari terbit fajar, hingga menjelang petang, aku tetap menantikan seseorang untuk membeli makanan yang aku jual di atas grobak ini.
 
Sudah ribuan detik aku lalui di tempat ini, tapi tak ada satu pun makanan yang terjual hari ini. Sabarlah, mungkin rezekiku bukan untuk hari ini. Gerobak dorong yang selalu setia menemani langkahku, kelak kau akan kuabadikan dalam cerita indah kehidupanku.
 
Waktu sudah sangat sore, aku harus segera pulang meskipun tak membawa sedikit pun uang untuk keluargaku.
 
Sambil menghela napas panjang, aku kembali ke rumah dengan keadaan yang tak jelas. Pakaian kumalku seolah menjadi pelengkap kesedihan untuk hari ini. Entah apa yang harus aku lakukan. Keluarga kecilku yang sedari tadi menunggu di rumah, menyambut riang kedatanganku. Meski tak selembar uang pun aku bawa, keceriaan mereka membuat hidupku serasa disirami madu-madu yang lezat.
 
Keesokan harinya, seperti biasa aku mendorong gerobak butut ini hingga puluhan kilometer dari tempat tinggalku. Aku mencoba menghentikan langkahku hanya sekadar untuk beristirahat. Langkahku terhenti  di sebuah kantor besar dengan jumlah karyawan yang sangat banyak. Karyawan kantor itu berhamburan keluar pada saat jam makan siang berlangsung. Para karyawan kantor tersebut sibuk mencari menu makan siangnya.
 
Aku yang sedari tadi termenung di antara pohon-pohon besar ini, terkejut dengan suara riuh para karyawan. Mereka menghampiri grobakku yang sejak lama berhenti di kantor ini.
 
“Pak, saya pesan satu ya ayam bakarnya,“ katanya. 

Rasa haru dan bingung menghiasi indahnya hari ini. Mereka bergantian menuju grobakku untuk membeli makanan yang aku jual. Aku menjual ayam bakar, lengkap dengan nasi, lalap, dan sambal.
 
“Pak, saya baru menemukan makanan selezat ini. Bumbu ayam bakar dengan rempah-rempah yang sangat terasa, hingga sambalnya yang menggoyang lidah. Rasa seperti ini sulit saya jumpai di tempat lain,” ucap salah satu karyawan kantor itu.
 
Ayam bakar yang kujual hari ini habis hanya pada saat jam makan siang berlangsung. Hampir semua pembeli memuji ayam bakar dan sambal buatan istriku. Sambal yang terasa sangat lezat dan bumbu rempah-rempah yang mempunyai cita rasa tersendiri, semua itu istriku yang meraciknya. Akulah yang bertugas untuk berkeliling menjualnya. Dengan harga yang sangat murah, aku berani bertaruh, rasanya tak kalah dengan makanan yang dijual di restoran bintang lima sekali pun.
 
Biasanya aku pulang dengan wajah yang sangat lemah dan pakaian kumal. Tapi tidak untuk hari ini. Saat jam makan siang berakhir, aku harus segera pulang untuk berbelanja kebutuhan jualan esok hari.
 
Keluargaku menyambut kedatanganku dengan riang. Hari-hari berganti, makanan yang kujual selalu habis hanya pada saat jam makan siang berlangsung. Namun, ketika kebahagiaan baru saja menghampiri kehidupanku, masalah berat menghancurkan mimpi indahku.
 
Razia pedagang kaki lima menghancurkan hari indahku ini. Gerobak bututku diangkut petugas, entah dibawa ke mana. Aku lemas menyaksikan kegaduhan semua pedagang kaki lima yang baru saja memulai paginya untuk mengais rezeki. Usaha yang baru saja mendapatkan sedikit harapan akan berkembang pesat, harus kurelakan meskipun kata hati tak ada sedikit pun keikhlasan.
 
Hari indah yang kulalui bersama gerobak itu, kini tak lagi menghiasi hariku. Modal yang kukeluarkan cukup banyak pada hari di mana ada razia pedagang kaki lima, tidak bisa kuganti. Aku tidak bisa berjualan lagi. 

Setelah perginya gerobak itu, rasa putus asa selalu menghampiri langkahku. Namun, bagaimana dengan nasib keluargaku? Mereka semua butuh kehidupan yang layak. Aku harus tetap berjuang untuk kebahagiaan mereka.
 
Aku mencoba meminjam modal ke rentenir karena bingung harus kepada siapa lagi aku meinjam uang. Meskipun aku tidak tahu, bisa membayarnya atau tidak. Semua ini aku lakukan demi keluarga kecilku yang membutuhkan segalanya untuk tetap bertahan hidup di bawah garis kemiskinan.
 
Kini aku berjualan ayam bakar di depan rumahku, berharap tidak ada lagi kendala yang menghampiri, aku tetap harus berdoa dan berusaha agar kemiskinan ini tak lagi mengiasi kehidupan keluargaku.
 
Setelah satu minggu aku berjualan di rumah, ternyata permintaan pembeli semakin meningkat. Banyak pula pesanan untuk acara-acara besar. Kehidupanku mulai membaik, usahaku semakin berkembang dan modal yang aku pinjam ke rentenir itu bisa kulunasi sebelum jatuh tempo pembayaran. Tabunganku sudah sangat banyak, aku berniat untuk membuka cabang di pinggiran ibu kota.
 
Akan ada keajaiban di setiap kesulitan. Gerobak dorong butut itu kembali menjadi milikku. Kembali menjadi hiasan indah di depan kedai baruku. Semua sudah digariskan oleh-Nya. Semua menjadi rahasia Illahi yang tidak bisa kita duga sebelumnya. Kesulitan yang sering kujumpai, menghantarkan aku menuju kesuksesan yang hakiki.


*Novellia Narulita22/09/16
19:35

Sumber gambar: www.gtainside.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Gerobak Dorong Rahasia Illahi Rating: 5 Reviewed By: mindis.id