Latest News
Wednesday, September 7, 2016

Antara Keluarga dan Orang Ketiga

Baca Juga


Mendung seolah menggambarkan tentang perasaanku saat ini. Rasa hati yang sedang hancur, dan sayap-sayap pelindung yang ikut hancur bersama suasana hati, semakin membuat hidupku antara hidup dan mati. Pelangi yang mulai menampakkan keindahannya, membuat suasana gelap ini sedikit berubah menjadi cerah.

Apalah artinya semua ini? Apakah aku harus terjerat dalam lembah kedustaan. Ah, rasanya harus segera aku keluar dan melanjutkan semuanya seperti sediakala. Tapi bagaimana caranya? Aku tak kuasa menanggung kisah indah yang berakhir duka.

Namaku Sally, saat ini usiaku tepat 20 tahun. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Di hari spesial ini aku mendapatkan hadiah terindah, hadiah yang aku nanti sejak lama. Pandu, kekasihku, memberi hadiah yang tak ku sangka dan tak ku duga sebelumnya. Dia melamarku di depan semua kerabat dan teman-temanku, yang menghadiri pesta ulang tahunku ini. Sungguh kejadian indah yang berhasil membuat perasaanku menjadi membeku, bagaikan tinggal di kutub selatan.

Hari-hari berganti, perjalanan cintaku dengan Pandu semakin berseri, bak bunga melati yang sedang merekah, dan memercikkan aroma kedamaian. Setelah acara lamaran itu berlangsung, hari dan tanggal baik untuk pernikahan kami sudah ditentukan. Hari-hariku disibukkan untuk mengurus pernikahan yang aku harapkan dan aku nantikan hingga dewasa ini.

Saat ini aku masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di pinggiran Ibu Kota. Begitu pun dengan Pandu, ia mahasiswa semester akhir, di universitas yang sama denganku. Namun, wisudaku masih teramat lama, masih harus menunggu dua tahun mendatang setelah wisudanya Pandu.

Waktu demi waktu berlalu, hubunganku dengan Pandu semakin berantakan, bagai sobekan-sobekan kertas yang terhampar di lantai, namun harus terbang tertiup oleh angin kencang. Badai besar menimpa hubungan kami, hubungan yang digadang-gadang menjadi relationship goals of the year kandas di tengah jalan. Pernikahan yang akan segera di langsungkan, harus rela terbawa terjangan gelombang pasang air laut.

Hadirnya masa lalu di dalam suatu suasana, mengakibatkan hancur segalanya. Ditambah lagi keluarganya yang mengharuskanku untuk menjadi seorang sarjana sebelum menikah. Semakin memperkeruh suasana.

Apa artinya sarjana jika tidak memiliki skill?
Apakah syarat pernikahan harus menjadi seorang sarjana?
Apakah aku harus mempertahankannya?
Betapa bodohnya diriku, hingga saat ini masih bertahan dengan kepura-puraan, dan ketidakpastian.

Kehadiran seorang perempuan dari masa lalu Pandu, semakin membuat perasaanku bagaikan tercabik-cabik kuku tajamnya si raja hutan. Entah, apa maksudnya dari semua ini.

Secara perlahan perempuan itu mulai mencari celah untuk memisahkan hubunganku dengan Pandu. Semenjak kehadiran perempuan itu, tak sedikit pun pesan singkat atau telepon dariku di jawab oleh Pandu.

Apa salahku?
Mengapa kau tega mendustai hubungan ini?
Pernikahan yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi, harus berakhir dengan ketidakpastian ini.

Kucoba mengirimkan pesan singkat ini berulang kali, berharap ada jawaban manis yang aku terima.

Sayang, apa salahku kepadamu?
Mengapa kau tega melakukan ini?
Apa karena keluargamu dan hadirnya seseorang dari masa lalumu, membuat sikapmu berubah terhadapku?
Aku ingin jawaban pasti darimu. Aku sudah cukup sabar menanti kabar indahmu. Tetapi tak sedikit pun, pesan singkatku dibalas olehmu. Jika kau terus terdiam seperti ini. Tanpa kau pinta, aku akan pergi jauh darimu.

Sampai saat ini, tak jua Pandu membalas pesan singkatku. Aku lelah menunggu segala ketidakpastian ini. Keluarga yang terlalu menjaga gengsinya, dan hadirnya seseorang dari masa lalunya,membuat segalanya yang sudah dipersiapkan dengan sedemikian rupa,harus rela terbawa mimpi dan terbungkus harap.

Hal yang tidak pernah aku bayangkan, dan tidak pernah terpikir sebelumnya, sudah terjadi. Hari-hari indah yang dinantikan, seketika berubah menjadi abu yang siap dihanyutkan.

Rasa cinta yang mengalir sangat deras, membuat perasaanku seperti terkoyak-koyak debu jalan, dan rasanya ingin aku teriakkan, bahwa aku lelah menghadapi segalanya. Belum lagi harus menanggung malu yang luar biasa. Apa kata keluargaku nanti, apalagi tetangga, semakin mudah saja mereka mencemooh kehidupanku.

Biarlah saja aku melepasmu, merelakan kisah kasih yang berwujud kebodohan. Menunggu akan kepastian dan penantian yang berujung dengan pendustaan. Semoga keluargamu dan orang dari masa lalumu selalu dalam lindungan-Nya.
 
Aku yang terpaksa merelakan, harus pergi dengan tangisan.

Novellia Narulita
Bukit Duri 31/08/16
23:15

Sumber gambar: www.wallpoper.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Antara Keluarga dan Orang Ketiga Rating: 5 Reviewed By: mindis.id