Latest News
Wednesday, August 24, 2016

Pura-pura Tegar, Salahkah?

Baca Juga


Pura-pura tegar? Ya, biasanya ini dilakukan setiap orang untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada masalah. Padahal sebenarnya, ketika seseorang berpura-pura tegar, pura-pura baik-baik saja, saat itulah ia rapuh. Ia tak ingin orang lain tahu apa masalah yang sedang dihadapinya. Berpura-pura bahagia dan tersenyum, padahal hatinya sedang teriris sakit.

Salah satu contohnya adalah ketika dua anak manusia saling jatuh cinta dan menjalin hubungan. Namun sampai pada kata “perpisahan” karena tidak menemukan titik temu untuk bersatu. Hingga, rasa kecewalah yang menghampiri. Maka pada saat itu, seolah ia kehilangan arah hidup. Seolah semua orang sedang menertawakan kehancurannya. Padahal, itu hanya pikiran orang yang sedang terpuruk dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

Berpura-pura tegar itu tidak salah, tapi juga tidak benar. Dengan memendam emosi, hati kita menjadi sesak. Lalu timbul perasaan-perasaan dan prasangka yang justru malah membawa kita pada kehancuran. Merasa dunia tidak adil, merasa Tuhan tidak sayang pada kita, merasa semua orang menjauhi kita. Akhirnya, mood kita akan hancur berantakan oleh perasaan-perasaan itu. Misalnya ingin selalu menyendiri dalam kamar, tidak enak makan, juga tidak enak tidur. Pada akhirnya, bukan hanya hati yang akan hancur, melainkan fisik juga akan ikut drop bersamaan dengan perasaan itu.

Sebenarnya untuk menghilangkan kegundahan diri kita, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Misalnya saja bergaul dengan teman-teman yang membuat kita nyaman dalam menjalani hidup. Bisa melupakan sejenak masalah-masalah yang membuat kita merasa diperlakukan tidak adil. Ingat, kita masih punya keluarga, saudara, teman, dan sahabat. Kita juga masih bisa berbagi kebahagiaan bahkan berbagi keresahan diri kita kepada mereka. Jadi, hilangkanlah sikap berpura-pura tegar itu.

Terpenting, bukalah lembaran hidup baru. Mengapa? Karena hidup tidak hanya berhenti di situ saja. Hidup tidak hanya berhenti di satu titik saja. Masih banyak titik-titik kehidupan yang harus kita lalui. Jika kita sedang hancur, terpuruk, sakit hati yang mendalam, mungkin ini cara Tuhan menunjukkan kalau kita bisa melewati ini semua. Teruslah berpikir positif, karena Tuhan tidak tidur. Masih ada rencana Tuhan yang harus kita jalani.

Jadi mulai sekarang hilangkanlah sikap berpura-pura tegar padahal hati sedang menangis pilu. Lebih baik luapkan semua masalah kepada orang yang paling kita percaya. Kita itu adalah makhluk sosial, maka bersosialisasilah dan berinteraksilah dengan sesama. Terutama, luapkan dan ceritakan masalah dengan Tuhan. Karena hanya kepada Tuhanlah manusia mengadu. Hanya kepada Tuhan jugalah manusia memohon pertolongan. Terus berusaha, ikhtiar, dan berdoa ya, Gaes!

Tangerang, 23 Agustus 2015
1:25 PM



Sumber gambar: www.tumblr.com



Rahmat Basuki
Email: rahmat.basuki1920@yahoo.com
Instagram: @siiuki
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Pura-pura Tegar, Salahkah? Rating: 5 Reviewed By: mindis.id