mindis.id
Latest News
Thursday, August 18, 2016

Mengkritik Saringan Masuk Perguruan Tinggi Negeri

Baca Juga




Suatu hari, saya bertemu dengan seorang pemuda di sebuah warung kopi. Disana saya berbicara banyak, mulai dari pembahasan ringan seputar sepakbola ataupun gaya hidup, hingga topik yang tergolong berat seperti politik dan hukum. Yang menarik dari obrolan dengan pemuda ini adalah ia sangatlah muda, umurnya pun baru 17 tahun yang hendak masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Namun pemikirannya tergolong hebat. 

Ia bercerita kepada saya bahwa ia sangat mencintai dunia politik dan hukum. Ia banyak membaca biografi pemimpin - pemimpin hebat, seperti Mahatma Gandhi, George Washington hingga presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno. Tidak sampai disitu, ia juga sangat mencintai filsafat. Menurutnya, manusia sekarang ini sudah larut akan hal duniawi tanpa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia mencoba untuk mendalami pemikiran para filosof untuk melihat hal - hal yang sangat mendasar, Menurutnya, dasar itu merupakan hal terpenting. Tanpa dasar yang kuat, ibarat sebuah bangunan yang siap runtuh diterjang badai. Ia pun bercerita tentang pemikiran para filosof, mulai dari Plato dan Aristoteles, hingga Descrates, John Locke, ataupun Machiavelli, Sungguh pemuda pintar yang sangat langka di Indonesia. 

Namun ada sebuah cerita sedih. Ia bercerita bahwa ia ditolak oleh dua universitas negeri terkemuka di Indonesia. ia menjelaskan bahwa ia tidak terlalu pandai dalam matematika dasar yang terdapat dalam soal ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Hal ini menjadi faktor utama mengapa ia gagal masuk universitas yang sangat ia impikan. Selain itu, ia juga bercerita bahwa ia bukan berasal dari keluarga yang kaya sehingga ia tidak bisa mengikuti les untuk ujian masuk PTN di luar jam sekolah. 

Hal ini membuat hati saya miris. Bagaimana bisa anak secerdas ini gagal dalam ujian seleksi masuk PTN. Setidaknya, saya mencoba untuk menelaah mengapa hal ini bisa terjadi. Saya melihat ada permasalahannya bukan pada calon mahasiswa, tetapi dari ujian itu sendiri. Ada satu hal mendasar yang patut untuk dikritik dari ujian seleksi masuk PTN, yaitu soal - soal dalam seleksi PTN.

Problematika yang pertama adalah soal seleksi masuk perguruan tinggi adalah soal - soal yang sama sekali berbeda dengan ujian nasional. Sehingga, anak - anak di tingkat akhir SMA harus belajar ekstra guna bisa lolos seleksi tersebut. Caranya adalah dengan ikut les di luar jam sekolah dengan membayar sejumlah uang. Hal ini menjadi problematika bagi sang pemuda tersebut dimana ia tidak memiliki uang untuk ikut dalam les tersebut. 

Dampak lainnya adalah membuat anak - anak di tingkat akhir lebih berpikir untuk lolos ujian saringan masuk perguruan tinggi dibandingkan dengan ujian nasional (UN). Mereka terkesan menganggap bahwa UN tidaklah sulit, lagipula pasti sudah ada bocorannya. Tidak bisa dipungkiri, kenyataan bocoran untuk ujian nasional memang selalu ada. Sebaliknya, bocoran untuk seleksi masuk lebih sulit didapat jika dibandingan dengan bocoran soal UN. 

Problematika selanjutnya adalah sering kali ada calon mahasiswa yang gagal ujian padahal memiliki kemampuan yang mumpuni untuk bidang ilmu tersebut, contohnya pemuda yang saya ceritakan barusan. Oleh karena itu, seharusnya soal yang diberikan seharusnya berdasarkan dari jurusan yang akan mereka ambil. Contoh, jika calon mahasiswa memilih untuk jurusan ilmu politik, maka ia diberikan soal seputar ilmu politik. Mungkin hanya dasarnya saja sehingga ketika masuk ia tidak buta akan apa yang akan ia pelajari kelak. 

Kira - kira inilah realita serta problematika yang terjadi di Indonesia saat ini. Semoga saja kasus pemuda ini bisa menjadi bahan bagi para pemangku kebijakan untuk segera merevisi kebijakan terkain seleksi penerimaan masuk perguruan tinggi negeri.      

*Ahmad Hidayah 
Alumnus Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 

Sumber Gambar : http://www.youthmanual.com/
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Mengkritik Saringan Masuk Perguruan Tinggi Negeri Rating: 5 Reviewed By: mindis.id