Latest News
Monday, August 22, 2016

Kewarganegaraan Ganda: Manusia Jangan Jadi Bunglon

Baca Juga



Baru-baru ini santer terdengar pemerintah akan merevisi undang-undang kewarganegaraan. Hal ini tentu saja ada kaitannya dengan diberhentikannya Menteri (kilat) ESDM yang hanya menjabat selama 20 hari saja. Selain itu, Gloria, sang pengibar bendera pada upacara Kemerdekaan RI Ke-71 kemarin juga tersandung masalah kewarganegaraan. Keduanya dipermasalahkan karena dianggap memiliki kewarganegaraan ganda.

Masalah kewarganegaraan bukan masalah sepele. Kewarganegaraan menjadi poin penting terkait eksistensi kita sebagai "warga". Negara mana yang kita akui sebagai "rumah" kita, negara mana yang akan kita bela ketika perang, serta negara mana yang kita mintai pertolongan ketika "bermasalah" dengan negara lain. Oleh sebab itu, pilihan kewarganegaraan seharusnya bersifat konsisten dan tidak bisa "diduakan". 

Indonesia tidak mengakui adanya kewarganegaraan ganda. Ini jelas, selain tujuan politik, juga terkait ketahanan negara. Indonesia tidak mau ditinggalkan warganya. Jika kewarganegaraan ganda diberlakukan, secara kuantitas, jumlah penduduk Indonesia akan membludak. Apalagi, kita semua tahu Indonesia memiliki banyak daya tarik bagi warga asing. Namun secara kualitas, apakah pemerintah dapat menjamin ideologi negara akan tetap bertahan? Baru diserbu via dunia maya saja, pemerintah "hampir" kehilangan generasi mudanya dan sibuk menyosialisasikan empat pilar kebangsaan.

Sebagai manusia dewasa, sudah sepatutnya kita pandai dalam menentukan pilihan. Menentukan pilihan berarti mengambil keputusan dengan segala risiko dan tanggung jawabnya. Risiko dan tanggung jawablah yang pada akhirnya akan mendewasakan kita. Jangan jadi manusia yang maunya untung terus, hingga tak tahu diuntung.

Sampai di sini, mungkin Anda bertanya mengapa judul dan bahasan saya tidak berkaitan. Jangan terlalu cepat menilai. Di sinilah saya ingin menegaskan. Bicara kewarganegaraan, berarti kita sedang berbicara pilihan. Semua manusia dewasa dituntut untuk bisa memilih. Memilih berarti mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain. Kita harus bisa menentukan di mana kita berpijak. Jangan seperti bunglon, yang dengan leluasa mengubah warna kulitnya sesuai di mana dia mencari makan. Bunglon makan serangga, manusia jangan makan rumput tetangga. Bunglon punya lidah panjang, manusia jangan panjang lidah. Saran saya, manusia jangan jadi bunglon.

*Nicky Rosadi
Penulis Buku Secangkir Teh, Bidadari Pemeluk Subuh;
Editor Bahasa Koran SINDO;
Dosen Universitas Budi Luhur.


Sumber gambar: kelompok4xmmb.blogspot.com
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Kewarganegaraan Ganda: Manusia Jangan Jadi Bunglon Rating: 5 Reviewed By: mindis.id