Latest News
Friday, August 26, 2016

Demi Generasi Muda, Kenaikan Harga Rokok Perlu Didukung

Baca Juga



Siapa yang tak kenal rokok? Rokok bahkan telah menjadi teman akrab masyarakat Indonesia. Mengapa saya bilang akrab? Karena kita bisa menemukan rokok di mana saja. Sebut saja di pasar, jalanan, bahkan tempat-tempat eksklusif seperti rumah sakit dan sekolah.

Jangan kaget, menurut Tobacco Atlas (2012), Indonesia mengalami peningkatan konsumsi rokok (dalam hitungan jumlah batang). Pada 2009, Indonesia menduduki peringkat keempat negara pengonsumsi rokok di dunia setelah China, Rusia, dan Amerika. Sedangkan jumlah perokok di Indonesia berada pada urutan ketiga terbesar di dunia setelah China (30%) dan India (11,2%) berdasarkan data WHO tahun 2008.

Hal inilah yang kemudian memunculkan perda terkait rokok. Pemerintah Indonesia bersama-sama sepakat menyatakan “perang” terhadap rokok. Larangan merokok pun dibuat. Para perokok hanya boleh merokok di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Lalu, efektifkah peraturan ini? Peraturan tanpa komitmen dari semua pihak, tidak akan pernah efektif. Silakan Anda jawab sendiri.

Penikmat rokok pun merambah ke semua kalangan. Mulai dari kalangan atas, hingga kalangan elit (ekonomi sulit). Bahkan, ada anggapan bagi para perokok bahwa mereka lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Apalagi, di negara kita, harga rokok bisa dibilang lebih murah daripada harga beras. Dengan uang Rp2.000 saja, para perokok sudah bisa menghisap dua atau tiga batang rokok. Beras? Mana ada penjual warung yang mau menjual beras eceran? Uang Rp2.000 tidak bisa untuk membeli beras.

Berangkat dari hal itu, wacana kenaikan harga rokok hingga Rp50.000 per bungkus pun digulirkan. Wacana ini berawal dari penelitian studi Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Studi yang diterbitkan di Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia itu mengkaji dukungan publik terhadap kenaikan harga rokok dan cukai. Berdasarkan survei terhadap 1.000 orang dari 22 provinsi dengan tingkat penghasilan di bawah Rp1 juta sampai di atas Rp20 juta, sebanyak 82% responden setuju jika harga rokok dinaikkan. Peserta kemudian ditanyakan, berapa harga rokok maksimal yang sanggup dibeli, sebanyak 72% menyatakan akan berhenti merokok jika harga satu bungkus rokok di atas Rp50.000.

Penelitian sebelumnya di Malaysia, Singapura, Inggris, dan Australia menunjukkan kalau orang dihadapkan dengan kenaikan harga rokok dua kali lipat maka konsumsinya turun 30%. Hal ini bisa menjadi kabar gembira bagi para perokok pasif juga ibu rumah tangga yang selama ini uang belanjanya berkurang karena rokok. Tentu saja, dengan harga yang tinggi, anak sekolahan juga tidak mampu membeli rokok. Kecuali jika uang saku mereka ikut naik.

Sebenarnya, titik perhatian saya ada pada anak Indonesia yang telah menjadi perokok aktif. Berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar 2013, perokok aktif mulai dari usia 10 tahun ke atas berjumlah 58.750.592 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 56.860.457 perokok laki-laki dan 1.890.135 perokok perempuan. Bukan tidak mungkin, jumlah ini akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Padahal, orang yang mulai merokok pada usia 12 tahun ke bawah memiliki kecenderungan menjadi perokok berat dan teratur.

Pada dasarnya, bukan perilaku konsumtif terhadap rokoknya yang saya khawatirkan, namun kandungan zat pada rokok yang akhirnya berpengaruh pada otak mereka. Sebuah riset yang dilakukan Severine Sabia dan rekan-rekan dari University College London dalam jurnal Archives of General Psychiatry, membuktikan bahwa perokok laki-laki akan lebih cepat merosot kemampuan otaknya dibandingkan perokok perempuan. Dalam hal ini, merosotnya kemampuan otak sama dengan buruknya kualitas memori dalam otak. Jika sudah demikian, bagaimana kita akan memiliki generasi emas?

Memang, tidak semua generasi muda sekarang adalah perokok. Akan tetapi, memiliki banyak (bahkan seluruh) generasi muda yang bukan perokok akan jauh lebih baik. Kemajuan dan perkembangan Indonesia berada di tangan para pemuda yang ada sekarang, bukan di tangan orang tua yang ubannya sudah tak bisa dihitung dengan jari. Hampir setiap momentum perubahan di Indonesia diinisiasi oleh golongan muda, bukan golongan tua yang jumlah giginya lebih sedikit dari jumlah jarinya. Pemuda adalah aset masa depan, bukan bahan bakar kemajuan yang bisa habis sebelum sampai tujuan. Oleh karena itu, demi generasi muda, kenaikan harga rokok perlu didukung!


*Nicky Rosadi
Penulis Buku Secangkir Teh, Bidadari Pemeluk Subuh;
Editor Bahasa Koran SINDO;
Dosen Universitas Budi Luhur.


Sumber gambar: www.alodokter.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Demi Generasi Muda, Kenaikan Harga Rokok Perlu Didukung Rating: 5 Reviewed By: mindis.id