mindis.id
Latest News
Monday, August 29, 2016

Cinta, Persahabatan, dan Kematian

Baca Juga


Angin berembus kencang, membawaku terbang tak tahu ke mana arah tujuan. Dinding-dinding di kantorku seakan mengajak untuk bercerita, menumpahkan segala keluh kesah yang ada. Syah, pria manis yang sampai saat ini memberikan warna di hidupku, mengajakku untuk bercengkerama dan tertawa riang bagai burung di atas awan.
Awal pertemuanku dengan Syah memang sangat aneh. Aku bertemu dengannya saat menghadiri pesta pernikahan salah seorang temanku, beberapa tahun silam. Kami sama-sama datang seorang diri tanpa membawa pasangan. Kebetulan pada saat itu aku memang belum mempunyai orang spesial di sampingku. Ya, saat itu aku jomblo.

Karena, tamu undangan sangatlah banyak, terpaksa aku harus mengantre. Aku berbaris di antara jejeran tamu undangan, menunggu sampai antrean selanjutnya.

Bbbyyaaarrrrrrr.
Aaakkkhhhhhhh.

Habis sudah gaun indah yang kupakai tersiram air sayur dari antrean di belakangku. 

Karena saling dorong, antrean jadi kacau hingga ke depan. Rasanya aku ingin berteriak.  

Aaaaaaaarghhhhhhh 
Gaun indah ini, berubah menjadi sampah yang siap dihanyutkan ke sungai.
Seorang pria tiba-tiba menghampiri dari belakangku.
"Hey, apakah kau baik-baik saja?" tanyanya sedikit meledek.
"Apakah menurutmu, aku sedang baik-baik saja dengan keadaan seperti ini?" kataku sambil mengelap gaun indah ini.
Tanpa berbasa-basi, pria itu langsung mengajakku berkenalan. Namanya Syah. Selepas pertemuan di tempat itu, aku tidak sempat meminta kontak teleponnya. Tanpa diduga, kami bertemu kembali di kantor tempatku bekerja. Ternyata Syah adalah manajer baru di kantorku. Perasaanku mulai tak menentu sejak pertemuan itu. Aku rasa, aku mulai jatuh cinta padanya. Ah, mungkin ini hanya perasaat sesaat saja.
Hari-hari kulalui dengannya. Semakin hari, rasa itu semakin tumbuh. Aina, sahabatku, kuceritakan soal pertemuan indah dengan lelaki yang mampu menghapus jejak dari masa laluku. Aku katakan padanya bahwa aku sudah mempunyai kekasih hati. Dan aku yakin, kami akan segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Suatu ketika, aku meminta Aina untuk datang ke kantorku. Aku juga bermaksud akan mengenalkannya dengan kekasihku.

Aina menjumpaiku di ruang kerjaku. Kami tak banyak berbicara, pandangan Aina tertuju pada Syah. Ruanganku dengan Syah, hanya terbatasi oleh komputer. Aina tak berkedip sedikitpun kala melihat Syah. Syah pun sebaliknya.
Kulihat, setelah bertemu, sikap mereka menjadi aneh. Sejak tiba, Aina hanya terdiam. Kemudian, tanpa alasan yang jelas dia menghampiri dan memukul Syah. Setelah itu, dia keluar sambil menangis. Aku bingung dengan kelakuan mereka. Aku mengejar Aina ke luar.
"Na, sebenarnya ada apa dengan kalian?" tanyaku.
"Asal kamu tahu, Syah adalah kekasihku. Dan kami sudah berhubungan sejak lima tahun ini. Puas kau!" kata Aina sambilo menangis dan memecah perasaanku.

Setelah Aina pergi, Syah datang menghampiriku. 

"Sabarlah. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini. Aku tak akan menyakitumu, Nana sayang," katanya sambil mengecup keningku dan merebahkan kepalaku ke dadanya. Aku menyukai setiap bait kata yang terucap dari bibir manisnya. Ya, pria yang sudah dua tahun ini menemani langkah hidupku.

Tapi bagaimana dengan Aina? Dia sahabat terbaikku. Setega itukah aku menghianatinya?
Tapi aku sangat mencintaimu Syah. Aku juga tak sanggup bila kehilangan Syah.
Sejak pertemuan di kantorku, tak sedikitpun kabar yang kuterima dari Aina. Aku mendatangi rumahnya, namun selalu sepi. Aku menanyakan kepada tetangga Aina, katanya, sudah satu bulan ini Aina dirawat di rumah sakit karena kanker yang dideritanya sudah semakin parah. 

Rasa berdosa menghampiri langkahku. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk sahabatku, Aina. Syah lebih memilihku. Aku tertunduk dan tak mampu menatap wajah pria manis itu setelah dia mengatakan, "Aku sayang padamu, aku akan berusaha memberikan hadiah terindah dihidupmu" sambil menghapus air mataku. Syah melamarku dengan untaian kata indah. Dia juga menyematkan cincin berlian di jari manisku ini.
Air mataku meluncur deras kala melihat Aina terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Aku hanya berani melihatnya lewat kaca kecil di pintu rumah sakit. Aku tak berani menemuinya. Aina, sahabatku, maafkan aku yang tega menghianatimu.

Hari ini, hari pernikahanku dengan Syah. Di hari bahagiaku ini, aku mendapatkan kabar tentang kepergian Aina. Sepucuk surat ia titipkan kepada kerabatnya untukku. Perlahan aku membuka dan membacanya.


Teruntuk Sahabatku, Nana
 
Aku menyayangimu. Kamu adalah sahabat terbaikku. Aku ikhlaskan Syah untukmu. Aku sudah tidak marah padamu. Aku yakin kamu adalah malaikat yang dikirimkan untuk menemani hidup Syah, bukan aku. Kamu jauh lebih pantas untuk Syah. Penyakitku sudah semakin parah, aku tidak boleh egois. Aku harus merelakan Syah, meskipun pahit. Oh ya, hari ini kamu menikah ya? Selamat ya. Maaf aku tidak bisa menghadiri pesta pernikahanmu, aku harus pulang.

Sahabatmu,
Aina


Tangis terpecah ketika membaca sepucuk surat yang Aina berikan di hari bahagiaku ini. Syah mencoba menenangkanku. Hati memang tidak bisa dipaksakan. Takdir memang sudah digariskan. Namun, keikhlasan dan ketabahan merupakan teman hidup yang tidak bisa dihilangkan.

*Novellia Narulita 
Bukit Duri 28/08/16
23:55
 
Sumber gambar: regional.kompas.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Cinta, Persahabatan, dan Kematian Rating: 5 Reviewed By: mindis.id