mindis.id
Latest News
Thursday, August 11, 2016

Belajar Menanggulangi Masalah Transportasi ala Singapura

Baca Juga



Kembali lagi pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi masalah kemacetan yang terjadi di ibu kota. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari  three in one yang resmi diberhentikan oleh pemerintah. Pemerintah menganggap aturan three in one justru menimbulkan masalah baru, misalnya tindak eksploitasi terhadap anak, di mana anak – anak sering di jadikan alat oleh para joki three in one untuk mengguggah hati pemakai kendaraan roda empat agar memakai jasanya.

Miris memang jika di lihat dari kasus eksploitasi yang di lakukan para joki selama ini, di mana anak – anak yang seharusnya bersekolah justru harus mencari uang untuk membantu orang tuanya. Oleh karena itu, untuk menanggulangi permasalahan ini, pemerintah terpaksa mengganti aturan tersebut dengan aturan baru yaitu aturan ganjil – genap yang dimana aturan ini diberlakukan untuk mengatur volume kendaraan di ibu kota.

Aturan ganjil genap adalah aturan yang dimana pengguna mobil dengan plat genap hanya bisa mengendarai mobilnya di beberapa titik yang telah ditentukan seperti jl. Sisingamaharaja, Sudirman, MH. Thamrin, Medan Merdeka Barat dan sebagian jalan Gatot Subroto pada saat tanggal genap dan begitu pula sebaliknya.

menurut hemat saya, cara ini dirasa cukup efektif karena dapat terlihat dari jalan – jalan tersebut yang sudah mulai lebih lengang dibanding saat sebelumnya. Namun permasalahan ini justru menimbulkan masalah baru. Pasalnya, kebijakan ini hanya untuk mengurai kemacetan, bukan menurunkan jumlah kendaraan di DKI Jakarta

Membuat aturan penggunaan mobil di jalan – jalan tertentu sama seperti memangkas rumput pada bagian daunya saja sehingga rumput tersebut akan bisa tumbuh lagi nantinya. Harusnya pemerintah lebih fokus kepada permasalahan peredaran mobil di masyarakat sehingga laju pembelian mobil bisa terkendali.

Dalam hal ini kita dapat mengambil contoh dari negara tetangga, yaitu Singapura dimana di negara tersebut pemerintah mengeluarkan aturan yang mengatur peredaran mobil. Beberapa aturan tersebut di antaranya adalah pemberlakukan aturan plat merah dan plat hitam, dimana plat merah adalah plat yang lebih mahal dibanding plat hitam boleh di pakai di hari senin – jumat pada pukul 19:00 – 07:00 pada weekday sedangkapan pada hari libur boleh digunakan selama 24 jam. Dan selanjutnya plat hitam hanya boleh di gunakan pada saat hari libur.

Para pemilik kendaraan pun harus memiliki sertifikat COE (Certificate of Entitlement) yang harganya bisa lebih mahal dari harga mobilnya. Para pemilik kendaraan juga diwajibkan untuk memiliki asuransi kendaraan. Selain itu, para pemiliki kendaraan juga dilarang menggunakan kaca film pada bagian depan kaca. Tidak hanya itu saja, pemerintah Singapura juga telah mengaplikasikan  aturan jalan berbayar ERP (Electronic Road Pricing) yang sedang digarap oleh Pemprov DKI Jakarta. Kemudian untuk para pengendara yang ingin memodifikasi mobilnya maka wajib mendaftarkan kendaraan mereka dan mengikuti LTA (Land and Transport Authority)

Dengan aturan – aturan tersebut maka penduduk negeri singa tersebut akan berfikir dua kali untuk memiliki kendaraan pribadi yang berdampak pada menurunnya jumlah kendaraan pribadi di Singapura. Saya kira, Indonesia patut mencontoh kebijakan pemerintah Singapura agar masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi publik ketimbang menggunakan kendaraan pribadi,

*Hendra Laksono

Sumber Gambar : http://www.loop.co.id/

  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Belajar Menanggulangi Masalah Transportasi ala Singapura Rating: 5 Reviewed By: mindis.id