mindis.id
Latest News
Wednesday, August 10, 2016

Andai Anak Kita Bersekolah di Finlandia atau Korea Selatan

Baca Juga



Dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami demam. Penyebabnya masih harus ditelusuri. Bisa jadi ini karena Pak Anies Baswedan baru saja pergi membawa sebagian besar harapan masyarakat Indonesia akan pendidikan yang lebih baik, sebagian yang lain mungkin sedang meraba-raba dahi dan bertanya-tanya apakah ini karena wacana yang digulirkan Pak Menteri baru tentang mewajibkan anak-anak untuk full day school.

Reaksi masyarakat terhadap demam ini beragam, sebagian ada yang berangan-angan, "Andai anak-anak kita sekolah di Finlandia." Tidak ada PR di Finlandia, jam sekolahnya pun lebih pendek, tetapi sistem pendidikan di sana melahirkan anak-anak yang lebih pandai dan lebih sukses. Akan tetapi benarkah anak-anak pandai itu lahir dari jam sekolah yang pendek dan tidak adanya PR?

Fakta menariknya, poin penting dalam sistem pendidikan Finlandia adalah rasio jumlah guru dan murid. Satu guru untuk 12 anak. Bandingkan dengan di beberapa negara maju lain, satu guru untuk 24 anak. Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Posisi seorang guru terhadap muridnya, di Finlandia, layaknya pengacara dengan kliennya atau dokter dengan pasiennya. Di sana, tes atau ujian yang sifatnya terstandar hanya diberikan setelah anak berusia 16 tahun. Di Indonesia, mau masuk TK saja ada tesnya. Coba hitung, berapa kali anak Indonesia harus berhadapan dengan tes terstandar nasional sebelum mereka berusia 16 tahun?

Dengan beban sekolah yang lebih ringan, anak-anak Finlandia mempunyai lebih banyak waktu untuk menjadi anak-anak sesungguhnya dan berada di rumah. Yang menarik, jika mengacu pada hasil riset internasional, anak-anak menghabiskan 7.800 jam di rumah dan 900 jam di sekolah selama setahun. Pertanyaannya, which teacher has the biggest influence? Guru atau orangtua?

Ketika anak-anak Finlandia berada di rumah, orangtua mereka mengajari bagaimana menghabiskan waktu dengan membaca. Ketika anak-anak Indonesia mendapatkan jam sekolah formal yang lebih pendek maka sisa waktu mereka diisi dengan les tambahan di bidang akademis. Apakah itu artinya anak Indonesia lebih senang belajar dibandingkan anak-anak Finlandia?

Sementara anak Indonesia mengejar kemampuan akademis dengan les matematika, bahasa asing, dan sebagainya, minat membaca anak Indonesia justru menukik tajam dibandingkan negara-negara lain di Asia. Anehnya, meski anak-anak Indonesia kelihatan suka sekali belajar ketimbang membaca, tetapi nilai PISA (Programme International Student Assessment) 2012-nya berada di peringkat 61 untuk literasi membaca dan peringkat 64 untuk literasi Matematika serta Sains, dari 64 negara yang mengikuti asesmen tersebut. Peringkat lima teratas diduduki oleh China (Shanghai), Singapura, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Negara-negara yang relatif lebih dekat dengan Indonesia dan sangat mungkin menjadi bagian dari MEA. Mungkin anak-anak Indonesia tidak akan bersaing dengan anak-anak Finlandia, tetapi dalam MEA anak-anak Indonesia akan bertemu dengan anak-anak dari Singapura atau Vietnam. Dua negara di Asia Tenggara yang nilai literasi membacanya jauh lebih baik.

Baiklah, kalau begitu mari berangan-angan, "Andai anak-anak kita bersekolah di Korea Selatan atau China." Apa yang terjadi di sana? Sebagian besar remaja di Korea Selatan bangun pukul 6.30 pagi dan menghabiskan waktu di sekolah dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 04.00 sore, atau pukul 05.00 sore, jika ada kegiatan klub maupun ekstra. Setelah itu, mereka pulang sebentar untuk makan dan pergi ke "sekolah kedua" dari pukul 06.00 sampai 09.00 malam. Setelah itu masih ada sesi self study selama dua jam sebelum akhirnya mereka tidur dan bangun untuk mengulang kembali rutinitas yang sama. Mereka sudah terbiasa bukan hanya dengan full day school, tetapi juga dengan double shift school. Hal tersebut sudah menjadi gaya hidup sebagian besar remaja di sana.

Dari hasil penelitian* sebagian besar orangtua, terutama ibu, merasa cemas dengan kondisi tersebut. Mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pendidikan dan merasakan tekanan sosial yang sangat hebat pada anak-anak mereka. "Korea tidak punya banyak sumber daya alam, manusialah yang menjadi penopang, sehingga harus bisa benar-benar stand out agar bisa berkompetisi."

Hasil investasi besar-besaran dalam dunia pendidikan sangat dirasakan oleh negara ini dengan lompatan kemajuan pembangunan ekonomi dan teknologinya yang sangat pesat. Bahkan keberhasilan anak-anak Korea Selatan (hasil GSCE test dibandingkan dengan murid dari Wales, England, dan Irlandia Utara) dalam mendapatkan skor tes matematika yang sempurna dengan waktu hanya setengah dari yang diberikan, membuat Menteri Pendidikan UK mencontoh kurikulum yang diterapkan di Korea Selatan. Tentu ada pengorbanan yang harus ditempuh untuk semua itu. Angka statistik kematian penduduk di bawah usia 40 tahun yang disebabkan karena bunuh diri sangat tinggi dan hal itu juga berkaitan dengan kompetisi dalam hal pendidikan dan pekerjaan. Menyikapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Korea Selatan, Nam Soo Suh, membuat kebijakan baru dalam hal pendidikan, tujuannya untuk menyeimbangkan dan membuat orang-orang lebih bahagia. Prof Juho Lee, Menteri Pendidikan sebelumnya, menambahkan bahwa sudah saatnya mereformasi sistem pendidikan yang hanya berbasis pada hasil tes. Skor memang penting di masa Industrialisasi, tetapi sekarang sudah saatnya beralih pada kreativitas dan kapasitas sosial-emosional. Jika diibaratkan sakit, Korea Selatan sudah menemukan apa yang menyebabkan sistem pendidikannya mengalami demam.

Tidak berbeda jauh dengan Korea Selatan, China juga menjadi salah satu negara yang penduduknya memberikan penekanan ekstrem pada investasi uang dan waktu dalam hal pendidikan. Antropologis dari Australian National University, Andrew Kipnis, mengatakan bahwa di China, orangtua dari kelas menengah lebih mementingkan dana untuk sekolah dibandingkan kesehatan anaknya, tidak jarang mereka sampai terlilit utang agar bisa menyekolahkan anaknya di luar negeri. Anak-anak, bahkan sejak sekolah dasar, sudah mendapatkan pelajaran tambahan. Semua itu untuk persiapan masuk universitas. India dan Indonesia adalah dua negara yang belakangan masuk ke dalam deretan negara yang titik berat pengeluaran terbesarnya ada pada investasi pendidikan.

Rasanya, tidak jauh berbeda dengan di China atau Korea Selatan, di Indonesia pelan-pelan sistem pendidikannya seolah bergeser pada siapa yang mempunyai dana lebih dan waktu lebih banyak yang akan mendapatkan pelayanan pendidikan lebih baik. Itu baru sebagian kecil persoalan yang dianggap menyebabkan "demam". Belum lagi masalah kurikulum yang bergonta-ganti, atau implementasi kebijakan yang belum dapat terealisasi dan memberi hasil yang positif. Lalu, sekarang bergulir wacana tentang full day school. Meskipun sebenarnya beberapa sekolah swasta sudah menerapkan hal itu.

Pertanyaannya bukan lagi apakah dengan menyekolahkan anak di sekolah mahal atau full day school akan menjamin kesuksesan hidupnya, tetapi apakah sistem pendidikan yang dienyam anak kita mampu melahirkan anak-anak pembelajar?

Teringat obrolan dengan seorang rekan WNA. Dia bertanya bagaimana anak Indonesia bisa survive dalam persaingan global? Salah satu alasannya, they dont even know how to use public transport.

Me : Why did you say so?
 
R: Mereka seperti tinggal dalam gelembung. Dari rumah diantar supir dengan mobil berpendingin, masuk private school, pulang atau les, ke mana-mana diantar lagi. Even Japan kindergarten know how to deal with strangers or predators.

Me: Well, nggak semua anak di Indonesia gitu sih. Mungkin yang kamu liat di Jakarta sekarang yang seperti itu, tapi ada juga yang nggak. Di Bandung, Semarang, Jogja beda lagi. I used to naik angkot saat sekolah, di Bandung sekarang banyak yang bike to school juga. When you doing your research here, you'll develop new point of view."

R : Well, kalau in goverment school, yes i believe ada yang begitu. But they dont get much at public school, that's why your country develop so many private and religious based school. Mereka terlalu takut anaknya terkontaminasi pendidikan yang jelek dan terpapar ajaran agama yang berbeda. Mereka bikin pendidikan jadi eksklusif dan mahal.

Agak menohok sih, mendengarnya. Saya juga memasukkan anak ke sekolah swasta salah satunya dengan alasan, kalau sekolah di negeri masih harus memberi pelajaran tambahan lain, misalnya bahasa Inggris, dan belum pede kalau harus ngajarin bab agama sendiri. Seperti bisa menangkap apa yang sedang saya pikirkan, dia berkata lagi.

R: See, you too, not confident to decide about homechooling your kids. Kamu dibandingin ibu di Pasar Sukumvit kemarin itu jauh lebih confident dia. Dia berani ambil keputusan ngajarin anaknya sambil jualan di pasar. Dia yakin anaknya bisa belajar banyak hal saat di pasar. Said that a mother is her childs first school in Islam, right. If your religion said so, you should be sure about that.

Ingatan saya melayang kembali saat melihat seorang ibu berjualan di tengah keramaian pasar sementara anaknya belajar membaca. Rekan saya itu mewawancarainya. Saya mendengar penerjemah membahasakan kembali beberapa kalimatnya. 

"Kita tidak bisa berharap terlalu banyak pada pemerintah, sekolah, atau guru. Sebenarnya, di mana saja anak kita bisa belajar. Sekalipun kita memasukkannya ke sekolah yang bagus, kita tidak bisa memindahtangankan begitu saja nasib anak kita kepada mereka. Sudah tugas saya mengajarinya membaca. Besok dia juga harus bisa berhitung, meskipun sederhana, dan hanya digunakan untuk melanjutkan pekerjaan saya berjualan di pasar."

Anaknya mendongak ketika melihat sang ibu diajak bercakap-cakap dengan seorang bule. Ia mendekati rekan saya, ikut mendengarkan percakapan dan sesekali ikut tersenyum sambil memerhatikan sang ibu bercerita tentang keluarga mereka. 

Saat melihat sorot mata anak itu, saya percaya dia akan tumbuh menjadi seorang pembelajar, tanpa perlu pergi ke sekolah mahal atau full day school. Ada rasa ingin tahu yang besar dari sorot matanya, bukan tentang bagaimana ibunya menghasilkan uang, tetapi tentang bagaimana ibunya menjalani kehidupan.

Tidak, rasanya saya tidak perlu berandai-andai menyekolahkan anak di tempat yang sempurna, karena pasti tidak ada. Saya hanya perlu mengajari anak-anak untuk percaya bahwa ruang kelas bukan hanya di sekolah, tetapi pada hati yang terbuka pada tempat dan orang-orang di sekitarnya.

Semarang 8 Agustus 2016


Magister Profesi Psikologi Universitas Padjadjaran
Penulis Buku '29 1/2 Hari', 'Lenka', 'Buku Pintar Ibu & Bayi', 'My Cup of Tea'

Sumber gambar: www.informasipendidikan.com
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Andai Anak Kita Bersekolah di Finlandia atau Korea Selatan Rating: 5 Reviewed By: mindis.id