mindis.id
Latest News
Wednesday, August 17, 2016

17 dan Gingsul yang Manis

Baca Juga


Hari ini seperti biasa, saya berangkat ke sekolah menggunakan Kopaja. Kopaja adalah salah satu transportasi massal yang murah bagi saya yang hanya seorang pelajar. Dengan tergesa-gesa, saya pergi ke sekolah tanpa sarapan. Karena, selalu ada masalah dengan perut ini jika saya sarapan sebelum berangkat sekolah. Saya berharap, jalanan ibu kota hari bisa bersahabat dan tidak membuat saya terlambat. Syukurlah, keberuntungan berpihak kepada saya. Jalanan tidak macet, dan saya tidak terlambat.

Saat ini saya duduk di kelas XII SMK. Baru duduk di kelas XII, saya sudah merasakan getaran asmara. Lagi. Yang sebelumnya, saya pernah gugur di medan asmara. Anis namanya. Dia seorang siswi Jurusan Akuntansi. Seangkatan dengan saya, tapi saya baru mengenalnya beberapa hari ini. Ini menjadi pertanyaan saya kepada Tuhan. Mengapa kami baru dipertemukan di saat akan lulus sekolah?

Setiap istirahat, saya selalu menyempatkan diri lewat di depan kelasnya. Hanya sekadar untuk melihat ciptaan Tuhan yang indah. Seiring berjalannya waktu, saya selalu memikirkannya. Saya ingin sekali menjadi orang yang ada di dalam hatinya. Tapi sepertinya itu hanya pikiran konyol saya. Mana bisa saya mendapatkan gadis secantik itu? Sayang, saya tak mau kalah sebelum bertempur.

Ada satu hal yang selalu terbayang di pikiran saya. Gingsulnya. Ya, gingsul wanita yang satu ini memang manis. Kecantikannya seolah berlipat hanya karena gingsulnya. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk meminta nomor HP-nya. Alhamdulillah, dia merespons dengan baik. Sudah beberapa bulan ini hubungan kami semakin dekat.

Tipikal wanita ini pemalu dan pendiam. Namun gingsulnya tidak pernah diam dan malu saat saya melihatnya. Hari ini, kebetulan, sekolah saya memulangkan muridnya lebih cepat karena kepala sekolah mengadakan rapat dengan guru-guru di luar kota. Beberapa hari sebelumnya saya sudah merencanakan strategi untuk mengungkapkan perasaan ini. Kebetulan saya juga membawa gitar, yang sudah saya persiapkan untuk ikut andil dalam rencana ini.

Bel pulang sekolah berbunyi. Sebagian teman-teman Anis sudah meninggalkan kelasnya. Sepertinya dia sudah mencium gerak-gerik saya untuk rencana ini. Dia menghindari saya. Dia lebih memilih pergi ke toilet bersama temannya. Apakah itu pertanda kalau saya harus mundur lagi di medan asmara ini?

Akhirnya saya mempunyai ide yang mungkin bisa menyukseskan rencana ini. Saat ke toilet, dia tidak membawa tasnya. Pastinya, dia akan kembali ke kelas untuk mengambil tasnya. Saya meminta temannya untuk memberi informasi bahwa saya sudah pulang ke rumah. Padahal, saya bersembunyi di balik meja kelasnya dan sudah siap dengan gitar untuk mengungkapkan perasan ini.

Akhirnya, dia masuk ke kelas. Saya langsung muncul dari balik meja dan mengungkapkan perasaan dengan sebuah lagu. Wajahnya merah merona bak bunga anggrek yang baru mekar. Tapi gingsulnya selalu manja untuk dilihat. Dia tidak bisa menjawabnya sekarang. Beberapa hari kemudian, dia baru memberi jawaban atas segala keresahan ini. Alhamdulillah, dia membuka hati untuk saya. Saya senang bukan kepalang karena si gingsul manis ini akhirnya menjadi milik saya.

Tanggal 17 Januari 2014, saya resmi menjadi pacarnya. Entah kenapa dia memilih tanggal 17 untuk menjalin hubungan. Bersama dengannya, selalu ada cerita yang mengisi ingatan di otak ini. Setelah enam bulan menjalin asmara, hubungan ini semakin tak terarah. Terlebih, sebentar lagi kami akan menghadapi ujian nasional. Kami pun fokus belajar untuk mendapatkan nilai yang diharapkan.

Syukurlah, murid di sekolah kami lulus 100%. Setelah pengumuman kelulusan, hubungan dengannya semakin jauh. Itu menjadi motivasi saya untuk menciptakan sebuah lagu, Bisu Merindu. Lagu ini saya ciptakan hanya untuk dirinya. Karena selama kami berhubungan, dia selalu diam namun selalu ada rindu di dalamnya.

Akhirnya, Juli 2014 kami sepakat untuk mengakhiri hubungan ini. Kami lebih memilih untuk mengambil langkah sendiri setelah putus hubungan. Dia bekerja di Jakarta, sedangkan saya merantau ke Kalimantan.

Saat ini, sudah genap dua tahun saya berada jauh dengannya. Selama dua tahun di sini saya selalu ingat gingsulnya yang manis. Sulit sekali melupakannya. Terlebih lagi, setiap tanggal 17, saya selalu ingin memeluk dirinya. Sampai saat ini, saya tidak mengerti mengapa dia memilih tanggal 17 yang hanya untuk dikenang tapi tidak dijalani.

Ingin sekali saya bertemu dengannya, tapi dia selalu merahasiakan keberadaannya. Ya, barangkali saya hanya perlu waktu dua menit untuk melihat gingsulnya yang manis itu. Dengan begitu, mungkin bisa mengobati kerinduan saya setelah dua tahun tidak bertemu.

Sebulan sebelum saya pulang ke Jakarta, saya pasti menyempatkan diri untuk memintanya bertemu dengan saya. Tapi selama ini, dia tidak pernah mau bertemu dengan saya. Ya, saya terima semua itu. Mungkin, kini sudah ada yang mengisi hatinya.

Sayang, kamu boleh melanglang buana ke sana kemari membuka lembaran baru. Tapi ingat, saya di sini menunggu lembaran lama, yang masih saya anggap lembaran baru.
 
Tanggal 17 memang manis untuk mengenang gingsul yang manis itu. Sampai saat ini, gingsul itu selalu membayangi otak saya. Entah pertanda baik atau buruk. Semoga kita dipertemukan di lain waktu, dalam kursi pelaminan yang sama. Sekarang hanya waktu yang harus saya tunggu. Semoga diri ini tidak salah menunggu waktu. Selamat malam tanggal 17.


Banjarmasin, 00:00 WITA.
17 Agustus 2016


Sumber gambar: www.tokyogirlupdate.com


 

Instagram: @ubaidillahurwah

  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: 17 dan Gingsul yang Manis Rating: 5 Reviewed By: mindis.id