mindis.id
Latest News
Saturday, July 2, 2016

Wanita Berkarier, Siapa Takut!

Baca Juga


DI ERA yang modern seperti sekarang ini, masih saja banyak pria yang masih memiliki pemikiran konvensional, yaitu tidak memperbolehkannya pasangannya bekerja atau mengharuskan pasangannya menjadi ibu rumah tangga. Pasalnya, beberapa pria ini merasa eksistensi dan kreadibilitasnya sebagai seorang pria dipertanyakan jika pasangannya harus bekerja, bahkan dapat memperoleh pemasukan yang lebih besar serta posisi yang lebih tinggi.

Di era emansipasi ini, pandangan-pandangan seperti ini seharusnya sudah tidak ada lagi. Apalagi konsep pemikiran soal wanita adalah wanita yang lemah, patut untuk dilindungi oleh kaum pria, serta hidupnya yang bergantung pada pria. Para penganut paham feminisme yakin bahwa perempuan bisa melakukan hal yang sama, memperoleh hal yang sama, serta kedudukan yang sama dengan kaum pria. Jika hari ini RA Kartini masih hidup, mungkin ia dengan lantangnya memilih untuk menjadi “wanita karier”. Oleh karena itu, menjadi wanita karier bisa menjadi sebuah opsi yang sangat memungkinkan bagi seorang wanita yang ingin membentuk masa depannya sendiri.

Banyak pria beranggapan bahwa jika pasangannya menjadi seorang wanita karier, maka siapa yang nantinya akan mengurus anak? Anak akan terbengkalai dan kurang akan kasih sayang. Ini pemikiran yang menurut saya sangat picik. Anak adalah tanggung jawab bersama, bukan satu orang tua saja. Oleh karena itu, sang ayah juga harus berpartisipasi aktif dalam tumbuh kembang sang anak, bukan hanya menyerahkan tugas pada sang ibu. Lagi pula, menjadi seorang wanita karier bukan berarti melupakan hakekatnya sebagai seorang ibu bukan? Tetap saja tugas-tugas pokok sebagai seorang ibu harus tetap dilakukan.


                                 www.drmommychronicles.com


Menurut pandangan saya, ibu yang bekerja dapat membentuk karakter anak yang lebih kuat di bandingan dengan ibu yang hanya berdiam diri saja di rumah. Pasalnya, ibu sebagai seorang wanita karier harus selalu update dengan perkembangan zaman dan hal ini yang akan diajarkan pula kepada anaknya. Anak-anak zaman sekarang ini memiliki pertumbuhan yang lebih cepat serta daya tanggap yang lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak pada masa lampau. Bayangkan, jika ada sebuah teknologi baru yang dimengerti oleh sang anak tetapi tidak dipahami oleh orang tuanya. Bisa menjadi suatu hal yang berbahaya bukan? Bagaimana pun, kontrol orang tua tetap harus ada. Ibu sebagai wanita karier yang notabene memiliki wawasan luas tentu tidak boleh kehilangan fungsi kontrol terhadap sang buah hati.  

Selain itu, di era serba teknologi seperti sekarang ini dapat menyulap barang-barang yang dulu bukanlah kebutuhan pokok menjadi kebutuhan primer yang wajib untuk terpenuhi. Contohnya seperti gadget ataupun komputer. Fakta ini membuat orang tua harus bekerja ekstra keras untuk dapat membelikan barang tersebut kepada anaknya. Realistisnya, kebutuhan ini akan tercukupi jika ada dua orang yang produktif, bukan hanya sang ayah.


Walaupun begitu, memang tidak dipungkiri bahwa menjadi seorang wanita karier juga memiliki dampak negatif, yaitu berkurangnya waktu bersama keluarga. Akan tetapi, wanita yang hebat adalah wanita yang dapat mengubah kekurangan menjadi sebuah kelebihan. Jadi, Karena kurangnya waktu untuk bersama, setiap kali dapat berkumpul bersama akan menjadi sebuah momen spesial. Singkatnya, apa pun alasannya, orang tua tetap harus menyempatkan waktu untuk bersama dengan keluarga dan menghabiskan waktu bersama. Sungguh bahagia bukan? 




*Ahmad Hidayah 
Alumnus UIN Jakarta, Jurusan Ilmu Politik 
ismetibon@gmail.com
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Wanita Berkarier, Siapa Takut! Rating: 5 Reviewed By: mindis.id