Latest News
Saturday, July 2, 2016

Tabir Gelap

Baca Juga




Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB, tetapi mataku tak kunjung menutup, malam seakan tak mengajakku untuk menikmati indahnya mimpi. Perasaan mulai tidak menentu, kupandangi telepon genggamku, tetapi tidak ada pesan singkat atau telepon dari siapa pun. Semakin aneh saja diriku ini, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan resah ini.

Aku ingin berteriak, aku ingin menangis dan aku ingin mengatakan kepada dunia kalau aku lelah dan tidak sanggup melanjutkan segalanya. Aku kangen mamah, aku kangen keluargaku yang utuh.

Terus-menerus aku pandangi telepon genggamku, aku berharap ada pesan singkat dari mamah, tapi lagi dan lagi, harapanku sirna. Tak ada satu pun pesan dari mamah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membangun keluarga yang utuh seperti dahulu.

Malam semakin larut, tidak ada seorang pun yang menemaniku di rumah ini. Hanya suara tokek, kodok, dan jangkrik yang setia menemani sunyinya malam ini. Dalam kegelapan, aku selalu termenung meratapi nasib yang entah sampai kapan akan seperti ini.

Malam berlalu dan pagi menjelang, tapi tetap saja aku masih asyik bermain dengan bintang-bintang di atas langit yang sedang tersenyum melihat keceriaanku, menyaksikan keindahan hidupku yang penuh sandiwara ini. 

Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi dan terus berbunyi. Akan tetapi tak kuhiraukan. Dalam hati berbisik, "Ah pasti dari orang yang ingin menjahiliku saja. Tengah malam menelepon, dasar tak tahu aturan!"

Dering teleponku terus berbunyi di sunyinya hari ini. Karena kesal, langsung saja kuambil telepon tanpa melihat nama penelepon tersebut. Terdengar suara parau dari telepon genggamku. Aku masih belum menyadari siapa yang meneleponku.

Kaget, senang, bercampur sedih. Ternyata yang sedari tadi meneleponku adalah mamahku. Tak kusia-siakan waktu di mana aku masih diberi kesempatan untuk bisa mendengar suara mamah.

"AKU KANGEN MAMAH!"

Pecah tangisan yang tidak dapat terbendung dari kami berdua selama bercakap lewat telepon. Mamah seolah menutupi kesedihannya sepanjang pembicaraan kami. Pada akhirnya, mamah tak kuasa menahan pilu yang dia rasakan selama kami berpisah. Rumah yang ditempati keluargaku saat ini, terpaksa harus diambil oleh deptcollector. Karena keserakahan kakak lelaki mamah yang haus materi, keadaan perekonomian keluargaku semakin memburuk.

Selama tinggal di Semarang, tak ada kabar sedikit pun yang kuterima dari keluargaku. Aku seperti hidup sebatang kara, tak ada perhatian. Yang aku jumpai hanyalah cacian, makian, dan hinaan. Itu semua sudah menjadi bagian dalam keseharianku.

Aku sulit untuk menghubungi keluargaku di Jakarta, karena mamah sering sekali berganti nomor telepon. Sempat putus asa dan tidak mau tahu kabar apa pun yang terjadi di Jakarta. Hal itu karena sangat susah bagiku untuk mendengar atau memberi kabar ke mereka. Aku senang bisa mendengar suara mamah lagi, meskipun yang kuterima adalah kabar buruk, kabar yang tak kuharapkan akan hadir di kehidupan keluargaku.

Sejak kecil aku sudah terpisah dari kedua orang tuaku. Aku tinggal dengan adik perempuan mamah yang biasa kupanggil "Mami". Mami terbilang orang berada yang keadaan ekonominya jauh lebih baik dari orang tuaku. Karena himpitan ekonomi yang memaksaku untuk mandiri pada usia dini, terpaksa aku harus tinggal bersama mami.

Sepanjang pembicaraan kami di telepon, tak henti-hentinya mamah menangis. Dia merindukan kedatanganku, menantikan kehangatan pelukanku, dan merindukan hari-hari indah bersamaku. Tak lama kemudian, telepon pun terputus. Sinyal di sini sangat buruk. Kami tidak dapat melanjutkan pembicaraan kami.

"Aku harus pulang. Mereka membutuhkanku," kataku sambil menggenggam telepon.

Pada akhirnya, aku memutuskan kembali ke Jakarta. Tak peduli apa jadinya kehidupanku nanti. Aku meninggalkan pekerjaanku di sini. Aku adalah buruh pabrik di salah satu perusahaan garmen milik kerabat mami di Semarang. Aku pulang tanpa pamit kepada mereka.

Cahaya fajarlah yang mengantarkanku menjumpai keluargaku di Jakarta. Tekadku sudah bulat untuk pulang. Kususuri jalan di desa ini, melewati jurang yang terjal dan tak ada satu pun kendaraan yang melewati desa ini.

"Aku harus cepat sampai Jakarta!" kataku dalam hati.

Aku sudah jauh berjalan meninggalkan desa ini. Desa yang membesarkanku dengan kemandirian, desa yang mengajarkanku tentang arti kehidupan.

Matahari mulai menyinari perjalanan panjangku. Tak sengaja di pertengahan jalan menuju stasiun kereta, aku bertemu dengan sahabatku, sahabat yang setia menemaniku selama aku berada di Semarang. Sahabatku bernama Tono. Tono lelaki yang tak pernah lelah memberiku semangat dan membantu keuanganku pada saat aku sedang terpuruk oleh himpitan ekonomi.

Tono sangat setia menemani hari-hariku. Dia pula yang mengantarkan aku dengan mobil bututnya menuju stasiun kereta. Aku sudah tidak sabar ingin cepat sampai Jakarta.

Kereta tujuan Jakarta sudah datang dan berhenti di stasiun tempatku menunggu. Alhamdulillah, aku tidak terlambat dan tiket pun masih tersisa untukku kembali ke Jakarta.

Jakarta genggam erat hatiku dan temani langkahku agar aku kuat menyusuri jalanmu yang penuh dengan penderitaan yang hadir di kehidupan keluargaku.

Butuh enam jam perjalanan dengan menggunakan kereta api agar aku bisa sampai ke Kota Jakarta, kota indah dengan kemacetan di setiap detiknya. Kereta berhenti di peron stasiun Jatinegara dan sedikit demi sedikit, aku susuri gerbong kereta ini agar aku bisa keluar dan cepat sampai di rumah. Setelah keluar dari stasiun kereta, aku melanjutkan perjalanan dengan menumpang angkot.

Jakarta indah sekali dengan macetnya. Beberapa menit kemudian, sampailah aku di rumah. Aku tak kuasa menyaksikan kehidupan ini. Rumah porak-poranda, mamah dan adik-adikku tak henti-hentinya menangis, menyambut kedatanganku yang sejak lama mereka harapkan.

Aku baru sadar setelah menyaksikan kejadian ini. Selama aku tinggal jauh dari orang tuaku, mereka tak memberi kabar kepadaku, tak menjawab teleponku, dan tak pernah membalas pesan singkatku. Semua itu menjadi alasan mereka agar tidak membebani pikiranku. Mereka tak ingin aku tahu tentang kehidupan mereka yang jauh dari kata "bahagia". Kehidupan yang diselimuti ketegangan dan penderitaan.

Pada akhirnya, kami memutuskan untuk meninggalkan rumah itu, walau berat rasanya. Karena uang tabunganku belum cukup untuk membeli tempat tinggal baru yang lebih layak untuk orang tua dan adik-adikku, jalan terbaik yang kupilih yaitu dengan mengontrak rumah sangat sederhana yang hanya berukuran 8x3 m2. Aku akan terus berusaha dan terus menabung untuk membelikan mereka "istana indah".

Letak kebahagiaan kami tidak dilihat dari seberapa luas tempat tinggal dan seberapa banyak harta, tetapi kebahagiaan kami yaitu, mempunyai keluarga yang utuh dan tempat tinggal yang nyaman.

Apakah tabir gelap ini akan berubah menjadi terang?




*Novellia Narulita
novellia96@gmail.com


  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Tabir Gelap Rating: 5 Reviewed By: mindis.id