Latest News
Friday, July 22, 2016

Singa yang Mengajariku

Baca Juga



Suatu hari bapak mengajakku ke Taman Satwa Ragunan, di sana aku melihat banyak sekali hewan-hewan dengan beragam jenisnya. Entah apa yang diinginkan bapak sampai menunjuk Ragunan sebagai tempat untuk mengajakku berlibur.

“Bapak, kenapa kita harus ke Ragunan?” tanyaku ke pada bapak saat itu.

Lalu bapak tersenyum dan menjawab, “Nanti, Nak, Kau akan tahun apa yang akan Kau dapat di sana.”

Bayanganku saat itu adalah bapak akan mengajakku ke tempat yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya di Ragunan itu, mengingat Ragunan adalah tempat yang paling sering aku kunjungi.

Bapak mempersiapkan semua yang dibutuhkan, mulai dari minuman dan makanan kecil yang mungkin kami butuhkan di sana. Namun ada yang beda saat itu, ternyata bapak hanya mengajakku dan tidak mengajak ibuku. Aku heran dengannya hingga akhirnya aku bertanya, “Bapak, kenapa hanya kita berdua saja? Ibu tidak di ajak?”

Bapak yang sedang menutup tasnya menoleh ke arahku dan tertawa. “Biar ini jadi tugas Bapak, Nak, yang jarang sekali bertemu denganmu,” katanya kemudian.

Memang bapak adalah seorang pekerja keras, hampir seluruh waktunya digunakan untuk mencari uang guna biaya sekolahku. Dia berangkat pagi, kemudian pulang petang hari. Dengan kemacetan yang ada di Jakarta, bapak bisa sampai ke rumah pada pukul sembilan malam. Jika bapak pulang, terkadang aku sudah terlelap dengan mimpiku sehingga waktu untukku bersama bapak memang sangat singkat.

“Ayo, Nak, kita berangkat,” ucap bapak mengajakku dengan semangat.

Aku pun menyambutnya dengan bahagia. Kami berangkat segera dengan menggunakan motor tua milik bapak.

Tiga puluh menit waktu yang kami tempuh untuk sampai ke sana, karena memang Taman Satwa Ragunan itu begitu dekat dari rumah kami yang berada di sekitaran Depok. Tidak macet saat itu, sehingga kami melaju dengan cepat.

Sampai di sana, bapak langsung membeli dua tiket untuk kami. Kami masuk ke dalamnya dan bapak langsung mengajakku ke kandang singa. Tak jauh memang kandang itu letaknya dari tempat masuk, hanya melewati sekitar satu atau dua kandang binatang di sekitar situ.

“Nah, Nak, sekarang kita sudah sampai di tempat seekor singa. Banyak yang ingin diajarkan oleh singa itu kepadamu,” kata Bapak sambil menunjuk singa yang sedang berdiri tegak menatapku sambil mengeluarkan aumannya.

Aku sangat takut dibuatnya. Seolah menyadari ketakutanku, bapak langsung menggenggam tanganku sehingga membuatku lebih merasa aman.

“Nak, liat singa itu. Begitu gagah dan menyeramkannya. Namun di tempat ini, aumannya hanya menjadi bahan tertawaan banyak orang. Padahal, jika di hutan, auman singa itu sangat ditakuti. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena dia dikurung dalam kandang yang membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah pelajaran dari sang singa untukmu. Dia ingin memberi tahumu sesuatu bahwa, sehebat-hebatnya kemampuan dirimu, jika kau mengurungnya dalam ketidakpercayaan diri dan keragu-raguan, apalagi rendah diri, maka kau hanya akan menjadi bahan tertawaan banyak orang.”

Itulah kalimat yang paling kuingat dari almarhum bapakku. Biarpun dirinya kini telah tiada, namun warisannya merasuk dalam diriku. Bukan berupa uang ataupun aset berharga, namun berupa nasihat dan pemikiran yang membuatku menjadi sehebat ini.



*Hendra Laksono
hendragolden1@gmail.com
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Singa yang Mengajariku Rating: 5 Reviewed By: mindis.id