Latest News
Sunday, July 10, 2016

Roy Hodgson Pantas Resign

Baca Juga

www.skysport.com
KEKALAHAN Inggris pada Euro 2016 di Prancis menimbulkan luka yang mendalam bagi para fans The Three Lions. Pasalnya, berbekal pemain muda yang cemerlang di kancah domestik, tetap tidak mampu membuat mengalahkan Sirgudsson dan kawan-kawan. Apalagi, di atas kertas tim besutan Roy Hodgson ini menang telak secara kualitas. Tengok saja Harry Kane yang merupakan top score di premier league. Pun tidak dapat menghasilkan satu gol pun di kancah Euro 2016. Ataupun Jamie Vardy. Nama gemilangnya yang berhasil membawa kuda hitam Leicester City menjuarai liga primer musim 2015/2016 juga tidak dapat berbuat banyak.

Lalu apa yang menjadi masalahnya? Mari kita analisis dari babak pertama. Di menit-menit awal, permainan Inggris cukup impresif. Penetrasi Raheem Sterling yang membuat kiper Halldorson harus menjatuhkannya di kotak terlarang. Alhasil, eksekusi pinalti Wayne Rooney pada menit ke 4 berhasil membawa Inggris unggul lebih dulu. Namun sayang, lemah nya lini belakang Inggris 2 menit kemudian membuat Islandia berhasil mencetak gol balasan. Tidak berhenti dari situ, Inggris yang asik menyerang justru membuat serangan balik tim besutan Lars Lagerbaeck membalikan keadaan lewat gol K. Siggorthson. Selanjutnya, Inggris bagai kehilangan kreatifitas. Tidak ada serangan-serangan yang berarti. Tercatat, hanya ada 2 kali tembakan dari jarak jauh dari Dele Alli dan Harry Kane.   


http://www2.pictures.zimbio.com/
Di babak kedua pun Inggris tetap minim serangan dan kreatifitas. Padahal, masuknya Wilshere dengan ditariknya Erik Dier diharapkan dapat menambah kreatifitas serangan di lini tengah. Justru malah sebaliknya, Islandia yang berhasil membuat serangan- serangan mengancam bagi pertahanan Inggris yang di kawal oleh Joe Hart. Inggris mulai bertaji untuk dapat masuk ke daerah kotak pinalti Islandia ketika Rashford masuk menggantikan Wayne Rooney di menit ke 87. Sayang, sisa waktu yang sempit membuat Rashford tidak dapat mengubah hasil.

Secara keseluruhan, ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa Inggris harus angkat koper lebih awal. Pertama adalah lemahnya lini belakang Inggris. Di lini tengah, tidak ada koordinasi yang apik antar 2 center bek, Chris Smalling dan Gary Cahill. Tengok saja gol kedua Islandia. Siggorthson berhasil megolok-olok dua center bek yang menjaganya. Dengan mudahnya ia melesatkan tembakan tanpa ditutup oleh 2 center bek di depannya. Begitu pula full bek Inggris. Gol pertama murni kesalahan Kyle Walker yang terlambat menutup pergerakan lawan serta Rose yang terkesan tampil bukan sebagai seorang full bek.

Faktor kedua adalah pergantian pemain yang salah. Pergantian pertama yaitu ditariknya Erik Dier dan digantikan oleh Jack Wilshere, dengan harapan pemain ini bisa membawa kreatifitas dan passing-passing yang berarti. Nyatanya, Wilshere terlihat kebingungan di tengah dan terkesan menumpuk dengan posisi Rooney. Menurut pandangan saya, jika ingin menambah gebrakan dan kreatifitas, Adam Lallana lebih tepat dibanding dengan Rooney. Di beberapa pertandingan sebelumnya, pemain ibi berhasil membuat tusukan-tusukan atau passing-passing yang berarti. Selain itu, terlambat diturunkannya Rashford juga sangat berperan penting. Bayangkan saja, dengan sisa waktu 3 menit di waktu normal, apa yang bisa dilakukan seorang Rashford. Andai saja Rashford dimasukan lebih awal, mungkin saja bisa menambah nafas Inggris.

Faktor ketiga adalah miskin taktik dan management yang buruk. Secara strategi, Roy Hodgson memang sudah kalah telak dari Lars Lagerbaeck. Ambisi Inggris yang terlalu ingin mencetak gol berhasil dibendung dengan apik oleh lini pertahanan Islandia. Hasilnya, Inggris lengah dalam bertahan. Strategi Islandia sangat simpel, ultra difensif, menunggu hingga garis pertahanan Inggris maju, dan melancarkan serangan balik secara kilat. Ia benar-benar telah memprediksi gaya bermain Inggris yang memiliki mentalitas seperti itu. Tidak hanya itu saja, Roy Hodgson adalah pelatih manager yang sangat buruk. Dibuktikan dengan tidak berfungsinya skema permainan. Pemain inggris seperti bermain sendiri-sendiri, bukan sebagai sebuah tim.

Positioning yang diterapkan Hodgson juga terkesan tidak jelas. Coba lihat posisi bermain Jamie Vardy. Kadang di kanan, kadang di kiri, kadang di tengah. Padahal, seharusnya ia bisa berada di belakang Harry Kane sebagai seorang second striker dengan memanfaatkan Harry Kane sebagai tembok atau False Nine. Selain itu, posisi Dele Alli, Wilshere dan Rooney terkesan menumpuk dan tidak jelas. Seharusnya Alli bisa menggantikan posisi Dier untuk menjaga keseimbangan lini tengah, Wilshere sedikit di depan Alli sebagai seorang pengatur serangan, dan Rooney sebagai gelandang serang yang dapat melakukan tembakan-tembakan langsung atau memberi umpan terobosan kepada Kane ataupun Vardy.

Kira-kira tiga faktor inilah yang membuat Inggris harus angkat koper lebih awal dari Islandia. Dan keputusan Roy hodgson untuk mundur dari kursi manager di rasa sangat tepat. Tersingkir di 16 besar dan  kalah dari tim medioker sangatlah mencoreng nama besar tim nasional Inggris. Untuk itu, Roy Hodgson sebagai seorang manager harus angkat kaki dari posisinya. Diharapkan, FA dapat menunjuk pelatih yang lebih berkelas untuk dapat membawa tim nasional Inggris kembali berjaya, bukan hanya di tingkat Eropa, tapi juga di tingkat dunia.




*Ahmad Hidayah  
Alumnus Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
IG & Twitter: @ismetibon
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Roy Hodgson Pantas Resign Rating: 5 Reviewed By: mindis.id