mindis.id
Latest News
Friday, July 8, 2016

MIMPI

Baca Juga

samanan01.wordpress.com

Masih teringat jelas di benakku, sampai kapan pun akan tetap teringat masa-masa sulit pada waktu itu. Tepatnya sepuluh tahun yang lalu ketika aku menyelesaikan pendidikanku di bangku Sekolah Dasar yang hanya berjarak 10 meter dari tempat tinggalku. Air mata tak dapat terbendung ketika mendengar orang tua ku tak dapat membiayaiku untuk melanjutkan ke SMP. Aku lulus dengan nilai yang sangat pas-pasan. Kala itu sekolah swasta sangatlah mahal, sekolah swasta diperuntukkan hanya untuk kalangan orang berada, apa daya aku hanya seorang anak dari keluarga tak mampu yang ingin melanjutkan pendidikan yang lebih baik lagi.
 
Pupus harapanku untuk dapat bisa melanjutkan sekolah. Dalam hati kecilku berkata, “Aku tak ingin mempunyai nasib seperti kedua orang tuaku.”
 
Bapakku seorang buruh hanya tamat STM, dan mamahku seorang ibu rumah tangga dan mengenyam pendidikan cuma sampai SMP. Dengan nilai kelulusan yang sangat rendah, aku tidak dapat mewujudkan keinginanku untuk bisa melanjutkan sekolah di sekolah negeri yang aku dambakan selama ini. Dengan keadaan perekonomian keluarga yang sangat sulit, semangat aku tetap tinggi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih baik. Aku tak mau terus-menerus hidup di bawah garis kemiskinan.
 
Pendaftaran murid baru di setiap sekolah sudah mulai berakhir, sampai saat ini aku belum juga mendaftar. Demi aku bisa melanjutkan sekolah pada saat itu, mamahku sampai meminta pinjaman uang kepada adiknya yang keadaan ekonominya jauh lebih baik. Tapi hasilnya nihil. Pada akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di salon kepunyaan adik mamah. Aku rela bekerja agar aku bisa melanjutkan sekolah. Dengan bayaran yang sangat rendah, aku tetap yakin kalau aku bisa melewati semuanya dengan suka cita.
 
Tak lama kemudian dengan uang yang tak tahu cukup atau tidak untuk melanjutkan sekolah, dengan tekad yang luar biasa tanpa pikir panjang, aku langsung daftar sekolah, ya meskipun hanya bisa bersekolah di Paket B. Menghela napas yang cukup panjang, hatiku cukup lega karena aku bisa diterima di sekolah tersebut. Hari-hari berganti, hidupku mulai terasa indah. Aku bisa melanjutkan cita-citaku dan semoga pendidikanku tak hanya berhenti di sekolah Paket B ini. Obsesiku menjadi jurnalis sejak duduk di kelas III SD sangatlah tinggi.
 
“AKU INGIN JADI JURNALIS!”
 
“AKU HARUS KULIAH!”
 
Semakin hari, aku semakin semangat belajar. Prestasiku di sekolah cukup baik. Pada tahun 2007, aku memenangkan Lomba Melukis Anak Jalanan dengan Juara 1 se-Jabodetabek. Meskipun kedengarannya memalukan, setidaknya, itu prestasi yang sangat membanggakan. Tak berhenti sampai di situ, tahun 2008 aku kembali memenangkan lomba, yaitu Lomba Tari Piring Sumatera Barat. Aku mendapatkan Juara 3 se-Jakarta Selatan.
 
Semua kemenangan yang aku dapatkan, kupersembahkan untuk sekolah Paket B dan guru-guru yang sangat luar biasa mendidik murid-muridnya hingga dapat mencetak murid dengan keahlian yang mereka punya. Aku bangga bisa menjadi bagian dari Paket B ini.
 
Namun aku sedih dengan prestasi yang aku dapat tanpa semangat dari keluarga. Aku pikir ini hanya sia-sia. Hanya guru-guruku di sekolah yang senang dengan prestasiku, tidak dengan keluargaku. Tak ada semangat yang mereka berikan untuk aku. Prestasi yang aku dapat bukan hanya di luar sekolah, tapi di lingkungan sekolah. Aku selalu mendapat peringkat tiga besar.
 
Aku iri dengan teman-teman sebayaku di luar sana. Mereka bisa hidup bebas tanpa harus memikirkan keadaan ekonomi keluarga. Yang ada di otakku hanyalah kerja, Kerja, dan KERJA.
 
Tuhan, kapan semua ini akan berakhir?

Aku lelah, aku mau hidup bebas seperti anak-anak lain seusiaku.
 
Tak sabar menanti hari esok. Saat-saat menegangkan mulai tiba. Hari ini adalah hari di mana akan diumumkannya hasil kelulusan siswa Paket B. Bibirku terus bergetar tak tahu kenapa. Banyak sekali doa yang aku panjatkan. Terus berkomat-kamit dengan penuh harap mendapatkan nilai terbaik lulusan tahun ini. Kepala sekolah mengumumkan siswanya yang lulus mengikuti ujian akhir nasional. 
 
Jantungku berdetak sangat cepat.
 
Tengtongggg……
 
Ayeee. 
 
Aku melompat kegirangan karena pengumuman kepala sekolah. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa lulus. Padahal belum tahu berapa nilai akhirnya. Dengan wajah yang semringah, aku sangat percaya diri bahwa nilainya akan baik-baik saja. Tapi aku salah, lagi-lagi aku gagal, nilainya sangat hancur. Air mata pun sedikit demi sedikit mulai menetes dari mata indahku. Tidak tahu aku harus bagaimana menjalani ini semua, aku tidak punya tempat untuk bersandar dan menceritakan kesedihanku ini. Ah, percuma saja aku cerita ke mereka, toh mereka akan mengabaikannya.
 
Aku telan dalam-dalam kepedihanku ini hingga nantinya aku akan sukses. Meskipun tidak ada yang memedulikanku. “Aku. Ya, aku yang tak tahu kenapa aku harus dilahirkan tanpa adanya rasa kasih sayang.”
 
Perlahan aku jalan pulang dari sekolah, menelusuri jalan-jalan sempit, melewati pabrik tempe yang hanya berjarak dua meter dari bantaran kali samping sekolahku. Aku pulang dengan keadaan yang sangat lemas dan putus asa untuk melanjutkan perjalanan ini. Pakaian sekolahku sangat lusuh dan kumal. Perjalanan dari sekolah menuju salon tempatku bekerja hanya berkisar 20 menit, kutempuh dengan berjalan kaki. Sesampainya di salon, aku langsung melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Tanpa ada singgungan-singgungan tentang sekolah, dengan pede-nya aku bilang ke tanteku, “Aku lulus, Tante. Dengan nilai yang sangat baik. Aku ingin melanjutkan ke SMA.”
 
Sayang, tak ada jawaban manis yang keluar dari bibirnya.
 
Aku terus mencoba memelas perhatian seluruh keluargaku tanpa ada rasa malu. Sekarang adalah waktunya makan siang, aku tetap mencuri-curi perhatiannya tanteku. “Tante, aku mau ngobrol sebentar, boleh? Pleaasse, sebentar aja,” kataku.
 
“Iya, apa yang ingin kamu katakan?”
 
“Tante, aku ingin melanjutkan sekolah ke SMA.”
 
“Nggak usah mimpi ketinggian. Bisa buat daftarnya. Tapi buat ngelanjutinnya gimana? Apa sanggup? Sebelum bertindak, coba dipikirkan masak-masak,” kata tante memecah perasaanku. “Perempuan sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga dapur,” sambungnya, merobek kantung air mataku.
 
Karena pada saat itu aku tidak tinggal dengan orang tua, jadi aku lebih dekat dengan tante. Aku tinggal bersama tanteku sejak anak pertamanya meninggal. Dia yang merawatku ketika sakit. Tanpa dia, aku tidak bisa melanjutkan sekolah. Karena tanpa pekerjaan yang diberikannya, aku tidak akan bisa mendapatkan uang untuk sekolah.
 
Aku ingin main. Aku ingin tahu dunia luar. Aku tidak mau seperti ini terus. Aku merasa tidur di sarang harimau. Telat sampai rumah, dimarahi. Prinsip yang ada di otak mereka adalah, “Waktu adalah uang”. Telat beberapa menit saja, tak tahu berapa ribu kata yang keluar dari bibirnya. Aku sedih. Aku capek. Aku ingin menyerah menjalaninya.
 
Kesulitan demi kesulitan terus menghampiri. Setelah aku lulus SMP dengan nilai yang rendah, aku pun tidak dapat melanjutkan sekolah  di sekolah yang aku inginkan. Karena gaji yang sangat rendah yang tidak memungkinkan untuk bersekolah di tempat yang mahal, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkannya ke sekolah Paket C. Ya, apa mau dikata, demi masa depan yang indah, aku tetap harus memperjuangkannya. Setelah aku diterima sekolah, semangatku untuk melanjutkannya mulai pudar. Aku sering bolos, jarang mengerjakan tugas, dan sering melawan guru. Aku  bingung. Aku tak kuasa menahan beban penderitaan ini seorang diri. Banyak coretan-coretan merah yang mengotori daftar kehadiranku di sekolah. Akhirnya, pada saat ujian kenaikan kelas, aku di-DO (drop out). Pada saat itu, aku baru menduduki kelas I SMA. Semakin hari, hidupku semakin berantakan. Tak tahu arah tujuan ke mana harus melangkah.
 
“Putus asa. Ingin bunuh diri.”
 
Bisikan yang terdengar pada saat hati kacau, ya hanya itu. Beberapa kali di-DO (drop out) dari beberapa sekolah, alasanku hanya satu, “sibuk bekerja”. Aku menjadi lalai akan tanggung jawabku sebagai seorang siswa. Selang satu tahun setelah di-DO dari sekolah kedua, saat aku naik ke kelas III SMA, aku mencoba mendaftar di salah satu sekolah Paket C yang katanya murah dan berkualitas. Tanpa banyak basa-basi, akhirnya aku mendaftar di sekolah itu.
 
Awalnya aku malas. Aku capek kalau harus terus seperti ini. Rasanya, aku ingin menyerah saja dan tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Awal-awal menjadi murid baru sangat membosankan, tidak punya teman,  yang ada malah jadi kacau. Beberapa bulan kemudian, aku mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Aku adalah salah satu siswa berprestasi dan sangat aktif di dalam organisasi sekolah.
 
Nilai ujian akhir nasional yang aku peroleh sangat memuaskan. Aku lulus dengan nilai terbaik. Aku bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi dengan uang tabunganku selama bekerja di salon. Satu minggu setelah lulus dari sekolah Paket C, aku diterima bekerja di salah satu kantor Notaris PPAT yang ada di Jakarta. Kehidupanku sedikit demi sedikit mulai membaik. Aku juga tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Teknik di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Hari-hariku lalui dengan suka cita. Kebahagiaan mulai hadir di hidupku. Aku semakin semangat belajar dan terus bekerja agar cita-citaku sejak dahulu dapat terwujud.
 
Selang beberapa bulan bekerja di Kantor Notaris PPAT, masalah baru mulai bermunculan. Aku karyawan perempuan satu-satunya di kantor itu. Semua pekerjaan diberatkan kepadaku. Aku lelah, dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantor tersebut. Bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Kuliah yang baru saja aku mulai tak tahu akan berjalan lancar atau tidak. Masa depan cerah yang sejak dahulu aku impikan, tak tahu bisa aku raih dengan nyata atau hanya sekedar mimpi.
 
Mimpi?
 
"Anak dari keluarga orang tak mampu kebanyakan bermimpi. Paling hanya sekadar mimpi bisa meraih gelar sarjana."
 
Kata-kata dari kerabatku, aku cerna masak-masak dan akan aku wujudkan di kemudian hari.
 
Selang satu bulan setelah pengunduran diri dari Kantor Notaris PPAT, aku diterima kerja lagi. Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan properti di Jakarta. Tak harus pusing memikirkan biaya kuliah bisa terbayar atau tidak, karena aku akan memiliki gaji lagi untuk membayarnya.
 
Mimpi seorang anak dari keluarga yang tak punya, akan segera menjadi nyata!
 
Masalah-masalah baru menjadi seorang mahasiswa semakin membuat kepalaku sakit. Di saat pekerjaanku membaik, keadaan pendidikanku mulai memburuk. Aku terpaksa harus keluar dari kampus tersebut karena tidak ada solusi baik untuk penyelesaian masalah ini. Aku duduk di bangku Fakultas Teknik hanya beberapa semester saja.
 
Sempat menyerah, tak mau melanjutkan kuliah. Tapi terlintas bayangan di benakku akan perkataan kerabatku dulu.
 
"Anak orang susah kebanyakan mimpi. Paling jadi sarjana stres nanti."
 
Mulai cari-cari kampus baru agar aku bisa mewujudkan mimpi itu.
Aku mendaftar di salah satu Universitas yang ada di Kota Tangerang. Ujian mahasiswa baru gelombang III, akan segera terlaksana. Karena daftar terlambat, akhirnya aku ikut ujian gelombang akhir.
 
Saat-saat menegangkan tiba, selembar kertas ujian sudah sampai di tempat dudukku. Aku harus segera mengerjakannya. Dua jam waktu yang diberikan untuk menyelesaikan soal tersebut, akhirnya bisa kuselesaikan tepat pada waktunya.
 
Pengumuman mahasiswa yang lulus ujian seleksi diumumkan lewat website. Alhamdulillah, aku lulus dan diterima di Fakultas Sastra Indonesia universitas tersebut. Aku menjadi mahasiswa baru lagi, memulai semuanya dari awal.
 
Hari-hari kulalui dengan penuh harap. Pekerjaanku lancar, kuliahku lancar, dan sebentar lagi mimpi menjadi seorang sarjana akan dapat terwujud. Skripsi akan aku selesaikan tepat pada waktunya.
Mimpi yang dulu hanya menjadi cemoohan orang di luar sana, sebentar lagi akan dapat terbeli dengan perjuangan, usaha, kerja keras, dan terutama adalah doa dari orang tua yang luar biasa.

Bukit Duri, 03/05/15


 
 
 
*Novellia Narulita
novellia96@gmail.com
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: MIMPI Rating: 5 Reviewed By: mindis.id