Latest News
Saturday, July 30, 2016

Inkonsistensi dan Ketakutan Pemerintah dalam Hukuman Mati

Baca Juga




Beberapa waktu lalu, Indonesia kembali mengeksekusi mati para pelaku kasus narkoba. Eksekusi mati merupakan salah satu langkah pemerintah untuk memerangi kasus narkoba yang sudah sangat merajalela. Namun, eksekusi kali ini menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Pasalnya, pemerintah mengumumkan akan ada 14 orang yang akan dieksekusi mati. Namun, kenyataanya hanya 4 orang yang dieksekusi mati. 

Yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa hanya 4 orang dan 10 yang lainya tidak ? apakah ada kekuatan dan lobby - lobby politik untuk mengagalkan eksekusi mati 10 orang ini ? walaupun pemerintah melalui kejaksaan agung berdalih bahwa 4 orang yang dieksekusi berdasarkan tingkat kejahatannya yang tinggi serta 10 orang lainya masih menyisakan permasalahan yuridis, tetap saja citra pemerintah sudah tercoreng dengan inkonsistensinya. 

Selain itu, beberapa hari menjelang eksekusi mati terdapat kabar burung bahwa Freddy Budiman, salah satu gembong narkoba kelas kakap yang akan dieksekusi mati menyatakan bahwa terdapat aliran dana yang diberikannya kepada petinggi Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk mengamankan bisnisnya. Tidak sampai disitu, kicauan Freddy Budiman ini juga menyentuh Tentara Negara Indonesia berpangkat bintang dua. Ia mengatakan bahwa pernah suatu ketika ia bersama dengan salah seorang Jendral TNI bintang dua membawa sejumlah narkoba dengan menggunakan mobil dari Medan hingga Jakarta tanpa ada halangan sedikit pun. 

Menanggapi kabar burung ini, respons masyarakat pun menjadi terbelah dua. Sebagian merasa bahwa bisa saja berita ini adalah isapan jempol belaka mengingat bahwa ini merupakan upaya bandar narkoba untuk mencoreng citra pemerintah yang dinilai berani dalam memerangi narkoba. Selain itu, ada pula yang beranggapan bahwa bisa saja berita ini merupakan kebenaran dengan alasan bahwa Freddy Budiman merasa sakit hati atas vonis hukuman mati terhadap dirinya setelah apa yang telah diberikannya untuk para pejabat negara. Lagi pula, berita ini terdengar lebih realistis mengingat Freddy Budiman yang dieksekusi, bukan Benny Sudrajat yang dinilai memiliki kejahatan narkoba lebih dahsyat dengan membangun pabrik narkoba terbesar ketiga di Asia Tenggara. Selain itu, menjadi lebih masuk akal sebab sebagai langkah untuk menutup mulutnya sebelum berita ini tersebar luas.  

Terlepas dari pada itu semua, kita semua tetap harus berani memberantas narkoba karena permasalahan narkoba bukan hanya milik pemerintah, tapi seluruh elemen bangsa Indonesia. Selain itu, yang Indonesia butuhkan adalah kepastian hukum dan konsistensi dalam hal memerangi narkoba. Dengan konsistensi dan ketegasan, niscaya suatu saat narkoba akan musnah dari negeri tercinta.      

*Ahmad Hidayah 
Alumnus Ilmu Politik UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta 

Sumber Foto : http://www.republikasi.com/
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Inkonsistensi dan Ketakutan Pemerintah dalam Hukuman Mati Rating: 5 Reviewed By: mindis.id