mindis.id
Latest News
Wednesday, July 27, 2016

Ganjil Genap, Solutifkah?

Baca Juga



BEBERAPA hari ini, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mulai menerapkan sebagai solusi dari masalah kemacetan di DKI Jakarta. Program ini juga sekaligus mengganti program yang dianggap sudah tidak mampu untuk mengatasi masalah ini, yaitu kebijakan three in one. Menurut hemat saya, penghapusan three in one menjadi salah satu langkah yang tepat karena pada kenyataannya kebijakan ini belum dapat dikatakan berhasil dan cenderung membawa permasalahan baru, yaitu banyaknya joki three in one. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah metode ganjil genap ini menjadi sebuah solusi yang efektif? Atau hasilnya akan sama saja dengan three in one

Sebenarnya, kebijakan ganjil genap ini sudah ada sejak zaman Gubernur DKI Jakarta masih dipegang oleh Joko Widodo. Namun, pada saat itu setiap mobil harus dibubuhkan sebuah stiker yang akhirnya memunculkan proyek baru yang menelan biaya cukup besar. Alhasil, kebijakan ini pun ditunda. 

Kini, di bawah kepemimpinan Ahok, pemerintah kembali mencanangkan kebijakan ini. Bedanya, tidak menggunakan stiker lagi. Ahok mengklaim bahwa ia akan memperkuat pengawasan, misalnya seperti memperbanyak polisi yang berjaga dan memantau menggunakan CCTV. Selain itu, data statistik mengatakan bahwa jumlah mobil berplat ganjil dan genap memiliki komposisi yang hampir sama, 50 : 50. Maka, jika kebijakan ini sukses, diprediksi jumlah mobil yang melewati area ganjil genap ini akan menurun sekitar 50%. Selain itu, kebijakan ini sebagai kebijakan awal sebelum sistem jalan berbayar atau ERP (Electronic Road Pricing). Diperkirakan, September setelah tender selesai dan vendor telah ditetapkan, kebijakan ERP bisa diterapkan pada awal Januari 2017. 

Menurut pandangan saya, kebijakan ini memang cukup masuk dalam logika. Pasalnya, ada beberapa negara yang cukup sukses  dalam mengimplementasikan kebijakan ini. Walaupun demikian, ada beberapa hal yang menurut saya bisa menjadi permasalahan baru ketika kebijakan ini diterapkan. Yang pertama adalah tidak menutup kemungkinan jumlah pemilik mobil di Jakarta akan bertambah guna memenuhi plat ganjil dan genap. Hal ini menjadi realistis melihat betapa mudahnya pengajuan kredit mobil pada saat ini. Solusinya adalah pemerintah DKI Jakarta, berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengerem jumlah pembelian mobil di Jakarta. Misalnya dengan peningkatan pajak kendaraan roda empat atau pengetatan  

Permasalahan kedua adalah jalan-jalan alternatif akan menjadi lebih macet karena kendaraan akan mengambil jalan lain untuk dapat bisa sampai ke tujuan. Solusinya adalah pemerintah harus siap dalam merencanakan jalur alternatif bagi para pengendara sehingga kemacetan bisa terurai. 

Pada intinya adalah kebijakan ini adalah untuk mengatasi kemacetan di DKI Jakarta. Hemat saya, kemacetan di DKI Jakarta disebabkan oleh dua hal pokok, yang pertama adalah jumlah ruas jalan yang tidak pernah bertambah setiap tahunnya dan berbanding terbalik dengan jumlah kendaraan yang setiap tahunnya terus meningkat. Yang kedua adalah belum banyak dan layaknya jumlah angkutan umum. Sebut saja kendaraan umum yang sangat tidak layak seperti Metro Mini dan Kopaja atau Transjakarta yang sering mogok. Jika pemerintah bisa mengatasi dua permasalahan pokok ini, niscaya kemacetan di Jakarta akan berkurang bahkan hilang. 

Bagaimana pun, sebagai seorang warga DKI Jakarta, kita tetap harus optimis dan turut serta dalam menyukseskan kebijakan ini. Sebab, permasalahan di DKI Jakarta tidak akan terselesaikan jika hanya dengan pemerintah, melainkan juga harus ada aksi dan dukungan nyata dari masyarakatnya sendiri. 

*Ahmad Hidayah 
Alumnus Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 
Twitter dan IG : @ismetibon 


Sumber Foto : http://www.tandapagar.com/
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Ganjil Genap, Solutifkah? Rating: 5 Reviewed By: mindis.id