Latest News
Thursday, June 30, 2016

Takdir yang Tersurat

Baca Juga

Pagi yang indah.
 
Mentari menampakkan kecantikannya pada dunia, sebuah pertanda bahwa aktivitas manusia telah dimulai.

Pagi yang sungguh cantik, begitu cerah dengan sinar matahari yang hangat dan bersemangat. Namun berbeda dengan gadis mungil ini, ia masih terlelap di tempat tidur dengan selimut tebalnya, terlihat begitu nyaman ia menghamparkan tubuhnya.

Seorang ibu cantik, muda namun tegas setiap pagi harus membangunkan gadis kecilnya menjadi sebuah kegiatan rutin yang harus ia lakukan.

Sreeeekkkkkkkk… Sambil membuka jendela berwarna coklat ia memanggil gadis kecil yang sangat ia sayangi itu.

“Bangun, Neng. Ayo, udah jam 10 nih!”

Suara tak asing yang setiap hari terdengar, lembut namun tegas. Gadis mungil ini tak lama segera tersadar dari mimpi indahnya. Suara itu menjadi satu-satunya yang dapat membangunkan gadis mungil ini seperti sebuah alarm baginya.

“Ya, Bu.”

Ia segera beranjak ke kamar mandi, bersiap-siap untuk berangkat sekolah. kegiatan rutin yang ia lakukan setiap hari semenjak mengenyam bangku sekolah. Sekarang ia duduk di kelas SMA 1, sekolah yang di idam-idamkan semenjak ia duduk di bangku SMP. Gadis mungil manja dan selalu bersemangat, orang tuanya memberi nama  JULIA ANGGRAENI .

“Neng, ayo cepet. Nanti kamu telat ke sekolah loh, terus makan dulu!”

Dengan tergesa-gesa Julia keluar dari kamarnya.

“maaf ya buu, neng harus nyampe sekolah lebih cepet ada PR yang harus nanya ke temen. Assalamualaikum…!”


“ wa’alaikumsalam.… benar-benar ya anak ini”


Jawab ibu sambil menggelengakan kepala atas kelakuan putrinya.




Bus yang biasa mengantar julia ke sekolah belum juga kunjung datang, dari arah utara terlihat pria cool yang mendatanginya. Bagi Julia ini seperti mimpi yang tempo hari menghantuinya, hatinya menggebu-gebu dan badanya panas dingin. Pria yang menghampiri adalah pria impiannya semenjak SMP, sebut namanya DONI HERMANSYAH.


Dalam hatinya bergumam .. “ Tuhan benar-benar sayang padaku….”


“hai jul, pa kabar kamu ?”

Julia terbuai dalam lamunanya, hingga pria itu melambaikan tangannya.


“jul…jul..jul…”

Panggilan ketiga dapat membuyarkan lamunan gadis mungil itu.


“owh ya, hai don .. kabarku baik..”


Dengan salah tingkah julia menjawabnya, bus yang ditunggu telah datang mereka harus berpisah, segera julia naik bus dan meninggalkan doni karena sekolah mereka berlawanan arah. Namun Julia sangat bahagia meskipun pertemuan yang singkat, mereka dapat bertukar nomer Hp.




Malam minggu merupakan malam teristimewa bagi kebanyakan orang yang memiliki pasangan. Lain halnya bagi gadis mungil ini, malam minggu sama dengan malam-malam lainnya hanya saja terbebas dari tugas-tugas sekolah setiap malam.


Mengisi waktu luangnya, julia hanya mendengarkan radio yang menjadi temen pada malam itu. Setiap malam minggu julia ditinggal sendiri, karena ibunya harus mengikuti pengajian rutin, ayahnya kerja di luar kota sedangkan kakak yang sangat ia sayangi ikut dengan suaminya.


Tiba-tiba, ponsel julia berdering pertanda sms masuk.

“hai jul… malam minggu kemana nih?”


Dengan wajah heran, nomer yang tidak dikenalinya tiba-tiba menanyakan malam minggu yang hampir semua temenya tau yang dilakukan yulia hanyalah berdiam dirumah. Cuma anak iseng pikirnya hingga ia acuhkan sms tersebut, kedua kalinya ponsel berdering.


“napa ga di bls jul? lagi sama cowoknya ya. Maf ganggu kamu.

Doni “

Setengah tidak percaya, Julia memegang ponselnya dengan gemetar langsung menjawab sms dari doni. Malam yang menyenangkan bagi Julia, ada pria yang sms dan menemaninya di malam minggu.




Bel pulang berbunyi….

Julia bergegas pulang karena ada yang menunggu di depan gerbang sekolah untuk menjemputnya.


“jul, ko kamu buru-buru banget si pulang?” Tanya sahabatnya.

“udah ada yang nunggu, duluan yah.. dadah  …

see you :* “

Tak ingin orang yang ia sukai menunggu lama, Julia pergi dengan cepat.


“maaf, udah lama ya?”

“ga ko.. ayo naik !”


Tidak seperti biasanya Julia pulang di jemput oleh pria yang sejak lama ia sukai. Diam-diam doni juga menyukai Julia gadis mungil dan pintar yang dikenalnya sejak di bangku SD.


Hari ini doni berencana mengatakan cinta pada Julia dengan momen yang romantic. Momen-momen seperti itu yang Julia tunggu, momen yang tak akan terlupakan sepanjang hidup Julia. Dengan membawa Julia ke danau. Sambil membawa setangkai bunga doni mengatakan perasaanya pada Julia.


Doni dan Julia resmi berpacaran setelah doni melakukan pendekatan dan mengatakan cintanya pada julia.

J J




Ibu memasuki kamar anak yang sangat ia sayangi itu tanpa disadari Julia. Di meja belajar seperti biasa Julia mengerjakan PRnya, namun ada yang terlihat berbeda dari julia. Julia sering memegang ponsel dan suka senyum-senyum sendiri saat melihat ponselnya.


“neng,, ada yang beda dengan kamu,, ayo cerita sama ibu ndo..!”


Dengan ragu-ragu Julia menceritakan hubungannya dengan doni kepada ibunya, ia takut ibunya belum membolehkan pacaran. Tidak pernah Julia duga, respon ibunya sangat mendukung dan terlihat bahagia. Karena doni adalah anak temennya, Julia senang akan respon ibunya tentang hubungannya dengan doni tidak menjadi masalah bagi ibunya. Ia selalu bersyukur atas kehidupan yang diberikan Tuhanya yang begitu indah.


“nanti doni suruh maen ke rumah aja neng,,, kalau PR sudah selesai cepat kamu tidur!”

“ya buu.. J “


Lama- lama Julia tertidur lelep setelah PR yang dikerjakan selesai.

“ Terimakasih Tuhan atas kehidupan yang indah ini……………. “




Tiga tahun sudah Julia dan doni menjalani status berpacaran, mereka merayakan hari jadi yang ketiga. Hubungan yang terjalin selama tiga tahun membuat mereka lebih saling menghargai dan percaya. Tidak pernah ada masalah yang menimpa mereka berdua membuat gadis itu merasa yakin dengan pria yang ia cintai.


“ jul ,,, doni sayang banget sama Julia. Semoga tuhan senantiasa membiarkan aku menyayangimu baik dulu, sekarang maupun nanti”

“aamiin yaa Robb… “

Julia menjawab tersipu malu, meskipun tiga tahun sudah ia masih belum percaya bahwa pria di depanya yang sangat disukai adalah pacarnya.


Doni adalah seorang pria cool yang sangat romantic, membut hari-hari Julia menjadi lebih berwarna. Ia tak pernah menuntut apapun pada Julia, hanya ingin Julia bahagia berada di sampingnya. Tidak sedikit gadis-gadis lain yang mengagumi akan keromantisannya, doni merupakan pria idaman bagi setiap wanita.


Julia merasa sangat beruntung memiliki pacar setia, perhatian dan begitu sangat mencintainnya.




Hidup berdua dirumah mengharuskan gadis yang sudah tumbuh besar itu melakukan pekerjaan rumah sendiri, usai ia pulang sekolah.


Setelah pekerjaannya selesai, terdengar suara yang tak asing memanggil nama Julia didepan rumahnya..


“ hei gadis kecil…! “


Panggilan yang paling Julia benci lama tak di dengernya, semakin jelas terdengar. Julia segera keluar rumah dan langsung menghampiri seseorang yang sudah lama tak ia jumpai. Seorang pria yang sudah ia anggap seperti seorang kakak yang selalu memanjanya. Pria itu bernama MUHAMMAD RAVA RAMADHANI, umurnya 3 tahun diatas Julia.


“hah, abang? Masih saja manggil dengan nama itu..neng kan udah gede bang.. !”

Julia menjawabnya dengan wajah yang cemberut meskipun sebenarnya ia terkejut akan kedatangan kakak yang ia sayangi itu.


Rava langsung mengusap kepala julia, kebiasaan yang rava lakukan saat bertemu julia membuat rambut Julia menjadi rusak. Kebiasaan itu merupakan sikap rava yang menunjukkan kasih sayang pada Julia. Sikap yang selalu dirindukan oleh Julia.


“ iihh… neng bukan anak kecil lagi bang..! “


“owh.. sekarang adiknya abang udah besar toh? Lama tak jumpa denganmu neng, abang sangat merindukanmu…!”


“hmm,, abang gombal, buktinya gada kabar sama sekali tuh, hayoooo!”


Melihat adiknya cemberut, rava langsung menarik tangan yang dulu mungil kini terasa lebih besar dari lima tahun yang lalu itu. Selama lima tahun rava harus pindah ke luar kota karena tuntutan kerja orang tuannya.


Hati Julia terasa melayang ketika tangannya ditarik oleh rava. Rava memberi jawaban yang sontak mengejutkan Julia.


“kan neng tau, abang harus nyari nafkah yang banyak untuk membahagiakanmu neng..!”

“apaan si abang… bercanda aja!”


Setelah itu, keduannya saling terdiam. Suasana yang tadi hangat, kini berubah menjadi begitu dingin, mereka berdua menjadi kikuk dan canggung.


Datang ibu Julia membuat suasana yang dingin menjadi pudar.


“rava? Kapan kamu pulang nak?”


“ibu,, kemaren malam bu, ayah sama bunda juga pulang ko bu.”


“owh ya.. ibu juga udah kangen sama bunda kamu va…”


Ibu Julia sangat senang dengan kedatangan rava. Rava adalah pria yang selama ini ibu idam-idamkan sebagai calon menantunya itu. Ia pria yang selalu menjaga Julia sewaktu kecil. Pria yang ulet,  berbakti dan bersahaja dan rava juga memiliki pribadi yang menyenangkan membuat orang yang mengenalnya menyukai pria tampan itu.




Setiap berangkat ke sekolah, kebiasaan Julia adalah menunggu bus di halte deket rumahnya. Namun bus yang ia tunggu tak jua kunjung datang. Tibalah rava, segera ia menghampiri Julia di halte biasa Julia menunggu bus. Rava bingung apa yang harus ia katakan, setiap bertemu Julia mulut rava seolah membeku.


“hallo gadis kecil,,, ngpain kamu disini?”

Sapa rava pada Julia yang sedang panik karena bus yang julia tunggu belum jua muncul.


“ehh abang… ini nunggu bus lama banget bang K”

Jawab Julia dengan wajah paniknya, mukanya yang polos membuat hati rava tercabik-cabik dan tidak bisa membiarkan gadis yang ia anggap seperti adiknya itu merasa panik.


“yaudah abang anter, tinggal ongkosnya aja yah..hehehe”

Celoteh pria menawan itu untuk mencairkan perasaan panik yang sedang dialami Julia. Julia sangat senang dan lega mendengar tawaran rava meskipun tingkah rava yang jail.


“benar bang,,? Wah… neng dengan senang hati menerima tawaranmu… tinggal itung aja ongkosnya bang..hhehe “

Akhirnya Julia pun sampai ke sekolah tanpa terlambat.


“thanks ya bang,,, “


“limapuluh ribu ongkosnya…!!!”


Dengan mengulurkan tangan, rava menggoda Julia dengan senyuman yang nakal. Dengan muka cemberut Julia menjawanya.


“ihh… beneran bang?”

“hahaha.. dasar gadis kecil, udah sana masuk!”

Rava tertawa dengan rona penuh bahagia sambil mengusap kepala Julia hingga rambut Julia menjadi tidak simetris lagi.


“huuu… yaudah abang hati-hati di jalan yah J.”



Selama lima hari berturut-turut rava selalu ada setiap Julia sedang menunggu bus, lima hari pula rava mengantar julia ke sekolah. Julia merasa heran apakah hanya sebuah kebetulan atau memang sudah direncanakan. Dengan ragu-ragu julia memberanikan diri bertanya, hal itu pada rava ketika sedang di perjalanan menuju sekolahnya.


“bang, ko bisa yah Selama lima hari ini abang selalu ada ketika neng berangkat sekolah?”

Sontak rava terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut gadis kecil itu. Cepat atau lambat Julia pasti mencurigai rava yang beralasan selalu kebetulan setiap meghampiri Julia di halte. Rava gelagapan menjawab pertanyaan Julia, ternyata motif rava tercium juga oleh julia.


“ya bisa atuh neng, apa yang ga bisa sih di dunia ini…”


“owh…”

Jawab Julia dengan kecewa, berharap ada jawaban yang berbeda dari mulut rava. Namun seperti biasa rava menjawabnya dengan nada bercanda.


Di sisi lain rava merasa dirinya adalah pria pengecut, ia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Setelah ia menimbang-nimbang mulutnya mulai membuka.


“hmm.. sebenarnya abang sengaja menunggu neng biar bisa mengantar kamu neng”


“hah?”


“sudah lupain aja.. !”


“ihh.. tadi ngomong apa, ulangin lagi..”


“gada siaran ulang.. !”


Sebenarnya Julia mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh rava, berharap rava mengulangi ucapannya tadi karena Julia takut rava hanya bercanda.


“ahh.. apaan si jul kamu kan sudah punya doni. Kamu malah mengharapkan sesuatu dari orang lain”

celotehnya dalam hati.




Pada tanggal 24 juli hari minggu tepat ulang tahun Julia. Pada lima tahun yang lalu rava selalu membelikan ice crim coklat yang di sukai Julia. Rava pun melakukan hal yang sama pada hari ini.


Julia sedang menyiram bunga dengan wajah yang di tekuk, tak sedikit pun rona bahagia yang terlihat dari wajahnya padahal hari ini adalah hari special bagi dirinya. Semenjak malam hingga siang bolong tidak ada yang mengucapkan selamat kepadanya.


“hei jelek.. muka ko di tekuk mulu tar bunganya ga jadi mekar lohh..!”


“ehh abang.. biarin. Gugur aja sekalian!”


Dengan nada kesal.


“eitsss.. ga boleh gitu adik manis”


“tumben, kata-katanya enak di denger”


“hehe..kan adik manisku ini ultah jadi ga baik merusak suasana hatinya dong. Meskipun memang terlihat suasananya sedang ga baik si.. happy birthday ya gadis kecillll….!!”


“hmm,, masih ada yang inget juga ternyata. Makasih ya bang..hehe

Wahh ice crim! ”


Tidak lama kemudian datang doni bersama teman-temannya dengan membawa kue tart dan setangkai bunga setelah doni tidak menghubungi julia selama 1 minggu sengaja membuat surprise untuk wanita yang disayanginya.


“happy birthday.. happy birthday..happy birthday to you baby”

Setengah tidak percaya, Julia menyambutnya dengan penuh bahagia.


“thanks beb…”

Hari ulang tahun Julia berlangsung dengan sukacita, mereka merayakan bersama-sama. Julia sangat bahagia tenyata pacarnya memberi suprise.


Perayaan ulang tahun Julia pun selesai setelah makan-makan bareng dan mengobrol.

Namun lain halnya dengan rava, ia di hantui pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya. Siapa laki-laki yang memanggil baby dan memberi bunga untuk Julia. Julia memang belum memperkenalkan doni pada rava.


“owh ya, aku hampir lupa memperkenalkan kalian berdua. Abang ini doni pacar aku, dan ini abang yang sudah aku anggap kakakku sendiri”

Julia memperkenalkan mereka berdua.


“doni…”
“rava”

Mereka saling berjabat tangan.


Rava menjadi berkecil hati ketika mendengar bahwa laki-laki yang ia pertanyakan adalah pacar Julia, wanita yang sejak lama sangat di sayangnya. Rava mengurungkan niatnya untuk mengatakan isi hatinya selama 10 tahun yang lalu. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, ia merasa kecewa karena orang yang disayanginya memiliki tambatan hati yang lain.


“ yaa Robb, apakah inii adalah sebuah peringatan untukku bahwa selama ini wanita yang ku sayangi karenamu bukanlah jodoh yang Kau pilihkan untukku? Wanita yang selalu ku selipkan dalam setiap doaku pada-Mu ya Robb. Jika memang ia bukanlah tulang rusukku biarkanlah ku ikhlas melepaskannya pada laki-laki yang ia cintai.“




Hati rava menjadi tidak karuan semenjak mengetahui kalau Julia sudah memiliki hubungan dengan pria lain. Rava menjadi suka berdiam diri di rumah dan tidak memiliki semangat. Melihat sahabatnya seperti manusia yang tak lagi memiliki semangat hidup, zidan aliansyah teman dari rava tidak bisa hanya diam. Zidan tahu isi hati sahabatnya yang sudah lama terpendam namun tidak pernah berani mengungkapkan.


“va.. apa kamu akan seperti ni terus? Hanya karena laki-laki itu adalah pacar Julia?”

Zidan mencoba berbicara pada sahabatnya yang sudah satu minggu tidak keluar rumah.


“ayo.. semangat bro..! selama belum ada yang melingkar di jari Julia. Kamu masih bisa memilikinya kalau kalian memang di takdirkan berjodoh bro”


Zidan tidak pernah berhenti untuk menyemangati rava yang sedang di landa penyakit remaja yaitu galau.


Mendengar kalimat yang di utarakan oleh sahabatnya yang ia percaya, tumbuh setitik harapan kecil di hati rava. Ia mencoba bangkit dari kegalauannya dan memiliki semangat baru. Rava percaya bahwa takdirnya sudah tersurat di lauhful mahfuzh.


“terimakasih ya bro, kamu memang sahabatku yang paling ngerti…!”

Zidan bahagia melihat sahabatnya kini memiliki semangat baru lagi.




Malam minggu seperti biasa Julia sendiri di rumah. Saat itu Kesehatannya sedang kurang baik, ia ingin sekali makan bubur. Namun ia tidak bisa mengendarai motor, terpaksa Julia menghubungi pacarnya.


“don.. kamu lagi apa? Bisa minta bantuan ga?”

Beberapa menit kemudian sms di balas.


“maaf ya beb, aku sedang sibuk”

Jawab singkat doni, ia tidak mangatakan apa-apa lagi seperti tidak peduli pada pacarnya .


“Tanya kabarpun tidak??, mungkin memang ia sedang sibuk” , ucap julia dalam hati.


Terpaksa Julia menahan keinginannya. Seperti pepatah pucuk di cinta ulam pun tiba, ketika Julia sedang membutukan seseorang, datanglah rava.


“gadis kecil ko sendirian aja, mau abang temenin ga ni?”


“abang? Kemana aja? Ko baru nongol?”


“cieee… ada yang kangen ni sama abang?”

Sambil mengusap kepala Julia. Perasaan terasa nyaman ketika rava datang dan mengusap kepalanya seperti pria yang benar-benar mengayomi wanita.


“abang nih, kebiasaan deh usap kepala neng mulu..”

“tapi seneng kan?”

Julia tersenyum malu.


Rava memandang Julia dan ada yang terlihat berbeda dalam diri Julia.

“neng ko kamu pucat? Kamu sakit?”

Tanya rava sambil menyentuh jidat gadis yang dia anggap masih kecil itu.


“ga ko, Cuma demam doang?”


“demam doang?”


“bang aku pengen bubur, beli bubur yu..!”


“udah abang aja, kamu di rumah aja ya”

Rava khawatir pada Julia, namun Julia memaksa ikut mencari bubur. Akhirnya mereka berdua pergi bersama membeli bubur.


Dalam perjalanan pulang dari arah berlawanan, terlihat pria dan wanita yang sangat dikenali Julia itu sedang mengendarai motor dengan yang berpegangan erat. Seolah tak percaya, Julia mencoba menampiknya.


“neng bukankah itu doni dengan dewi?”


Tanya rava pada julia, untuk memastikan apa yang barusan ia lihat. Dewi adalah salah satu sahabat Julia, Julia sangat menyayangi sahabat-sahabatnya. Namun orang yang percayai itu ternyata telah menghianatinya.


“masa sih? “


“jangan pura-pura ga tau, kamu liat kan?”


Julia hanya terdiam, tubuhnya semakin melemah. Sesampai di rumah, tiba-tiba julia terjatuh ke bawah tanah.


“neng,, kmu kenapa? Bngun neng, bangun neng!!”


Julia jatuh pingsan. Rava sangat khawatir, ia segera menggendong Julia ke kamar. Ibu Julia pun pulang dari pengajian.


Empatpuluh menit kemudian, Julia tersadar.


“neng kenapa bu?”


“gapapa nak, kamu cuma kecapean aja ,,, J”


Jawab ibu sambil memegang tangan gadis kecilnya mencoba menenangkan kondisi julia.

Setelah mengetahui tingkah jahat pria yang menjadi pacar gadis yang di sukai, rava semakin yakin untuk melindungi Julia.


“ya Robb jangan biarkan orang yang ku sayangi tersakiti, berikanlah kebahagiaan untuknya. Jadikanlah ujian sebagai perintah-Mu untuk menguatkan dirinya. Biarkan aku senantiasa menyayanginya dan ku biarkan Engkau yang menyempurnakannya. Aamiin”




Empat hari semenjak melihat doni jalan dengan dewi, Julia belum menghubungi doni. Doni tiba-tiba datang ke rumah dan bertanya apa yang telah terjadi sehingga membuat Julia tidak menghubunginya.

Julia langsung mempertanyakan hubungan doni dengan dewi seperti yang terlihat malam minggu lalu. Doni tidak tahu kalau Julia melihatnya jalan dengan dewi. Namun doni menjelaskan bahwa doni dan dewi tidak ada hubungan apapun. Pada malam itu doni baru pulang dari rumah saudarannya, melihat dewi di jalan jadi ia mengantarkan temannya ke rumah.


Julia mempercayai penjelasan yang di utarakan oleh doni karena ia percaya sesuatu yang di lihat tidak selalu sama dengan kenyataan yang terjadi. Hubungan mereka nyaris bermasalah karena Julia bukanlah gadis yang suka membesarkan masalah, maka tidak terjadi pertengkaran sama sekali diantaranya.




Hari yang cerah, seperti hari yang tidak ada beban dalam hidup Julia. Hasil ulangan matematika baru saja dibagikan, nilai Julia sempurna membuat hati gadis ini angat senang. Selain itu, ia mendapat sms dari kakak tersayangnya.


“neng pulangnya abang jemput yah.. tunggu 5 menit lagi nyampe.. J”


Julia tak bisa menyangkalnya, ia juga senang di jemput oleh rava. Ketika sampai di rumah Julia, rava berniat untuk mengatakan isi hatinya.


“ neng ada yang ingin abang utarakan..”


Tiba-tiba suasana menjadi menegangkan, jantung julia ikut berdegup kencang. Ekspresi rava begitu tegang sambil menatap Julia dengan serius.


“neng sebenarnya perasaan ini sudah lama abang rasakan, abang tau kamu sudah memiliki seseorang yang bisa menemani hari-harimu. Tapi izinkan abang mengatakan ini pada neng. Semenjak lama, ketika ku mengajakmu bermain dan abang mengatakan  akan selalu menjagamu apapun yang terjadi pada abang. Ku menyayangimu karena Robb-ku , kau gadis yang selalu ku selipkan dalam do’a. abang selalu berharap kamu adalah gadis yang dipilihkan tuhan untuk menemaniku seumur hidup. Abang harap neng tidak melarang abang untuk menyayangimu”


Setelah mengutarakan semua isi hatinya, rava berhenti dengan menarik nafas panjang. Sebelumnya rava tidak pernah mengatakan cinta pada orang lain sekalipun. Sedangkan Julia hanya terdiam tanpa mengelurkan sepatah kata pun.


“denger ga?”


 “ha?”


“Kalo ga dengar lupakan aja!”


Sambil mengusap kepala Julia yang sedang terdiam kaku.


“ya”


“ya? Abang ga meminta jawabanmu sekarang. Abang hanya meminta neng fikirkan ini dengan baik-baik dan jangan lupa sholat istikhoroh yah. Abang pulang.. dah”


Rava menghilang dari pandangan Julia. Ia segera masuk ke kamarnya dan kata-kata yang di ucapkan rava masih terngiyang dalam pikirannya.




Selama satu minggu Julia memikirkan apa yang dikatakan oleh rava hingga membuatnya tidak bisa belajar dengan tenang.


Sedangkan rava menunggu jawaban dari Julia hingga ia tidak bisa tidur di setiap malamnya.


“ hai gadis kecil, sudah lama kah kamu menunggu ku?”

Rava mengawali dengan senyum nakalnya.


“hmm, lama banget”


“gimana neng jawaban dalam sholatmu?”


Selama ini Julia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap rava. Namun setelah ia benar-benar memikirkan masalah ini, Julia tidak bisa meninggalkan doni tanpa alasan. Ia tidak pernah ingin memutuskan hubungan karena ada orang lain di hatinya. Julia menetapkan untuk memilih doni di bandingkan rava. Meskipun ia tau rava adalah orang yang sangat baik. Di sisi lain doni juga baik dan perhatian. Julia dilema harus memilih diantara kedua orang yang ia sayangi.


“maaf ya bang…”


“cukup jangan dilanjutkan, abang tau jwabannya. Terimakasih ya neng untuk semuannya. Tapi abang tidak akan pernah berhenti untuk menyayangimu. Karena ku tau rasa sayangku ini adalah anugerah yang di berikan tuhan”


“bang…”


“udah gapapa ko, abang hargai keputusanmu. Owh ya abang besok balik ke Jakarta neng. Neng jaga diri baik-baik yah. Jangan nakal, tetap dalam jalan-Nya yah”


Sebuah percakapan yang dramatis, hati terasa sakit ketika mendengar rava akan pergi ke Jakarta esok hari. Ingin sekali Julia menahannya, tapi itu bukanlah hak Julia. Julia hanya bisa merelakan rava pergi.


Hari ini adalah hari terakhir Julia untuk melihat wajah seorang yang di nanti-nantinya semenjak lima tahun lalu , kini ia harus pergi lagi.


Tanpa terasa air mata keduannya menetes, perpisahan yang sangat mengharukan. Ahh bukan, bukan perpisahan. Julia tidak pernah menyukai kata perpisahan. Julia berharap bisa bertemu lagi dengannya di kemudian hari.




Hari kelulusan telah tiba, suasana di sekolah begitu ramai. Hari yang sangat menentukan masa depan ke PTN bagi seluruh siswa kalas xii di seluruh Indonesia.

Di sekolah Julia, tertanda LULUS 100%.


“Alhamdulillah ya teman-teman kita lulus semua… J”

Celoteh salah satu teman Julia.


“ya….. kita akan merindukan saat-saat di sekolah ini. Jangan lupakan kita semua ya jika sukses nanti. Pokoknya harus saling mamberi kabar. Oke!”

“Oke….”

Jawab semua teman-teman Julia.


18 mei pengumuman penerimaan PTN, Julia segera melihat hasil pengumuman di emailnya. Ketika terbuka emailnya, Ia dinyatakan “SELAMAT ANDA DITERIMA DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR DENGAN JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI”


Julia begitu senang membaca kalimat itu, ia pun segera memberitahukan keluarganya terutama sang ibu yang sangat ia cintai.


Sisi lain, ia bersedih karena harus jauh dari orang tuannya. Namun hal ini bukan menjadi halangan untuk menimba ilmu di salah satu institute terbaik di Indonesia. Ia bercita-cita untuk bisa membanggakan kedua orang tuannya.


Julia juga sedih harus berpisah dengan doni, karena doni di terima universitas dalam kota. Semua itu tak bisa mengurungkan niatnya untuk menjadi orang yang sukses di masa dapan.

….


Keberangkatan Julia ke bogor merupakan momen yang mengharukan. Julia yang tidak pernah jauh dari kelurganya. Kini harus pergi dan pribadi yang mandiri di kota orang lain, yaitu kota yang terkenal dengan sebutan kota hujan sebut saja Bogor.


Menuju bogor menggunakan mobil travellilng bersama teman-temannya. Terpaksa kedua orang tuannya tidak bisa mengantarkan gadis kecil yang kini harus di lepasnya untuk menjemput  cita-citanya semenjak kecil.


“hati-hati ya neng, jaga diri baik-baik, jangan lupa sholat, makan, jaga kesehatan. Disana jangan nakal, kamu harus hubungin ibu tiap hari yah!”


Nasehat seorang ibu pada putri yang selalu menemaninnya. Nasehat itu menjadi pegangan bagi Julia untuk hidup baik saat jauh darui orang tuannya.


“ya bu, ibu juga jaga kesehatan. Jangan banyak pikiran yah… J”

Ayah hanya berkata, “hati-hati di jalan yah nak”


Di tempat yang tidak jauh dari orang tuannya, berdiri pria yang mengatakan cinta pada 3 tahun yang lalu padanya.


“jaga diri baik-baik, atur pola makan disana. Jangan cari cowok lain yah… hehehe”


Pesan pria itu, doni terasa berat untuk segera melihat pacarnya pergi. Saat mobil yang di tumpangi akan segera melaju. Julia melihat keluar jendela sambil melambaikan tangannya.


Mata kedua orang tuannya berkaca-kaca begitu juga dengan doni. Namun Julia berusaha tegar karena takut orangtuannya tidak bisa merelakan kepergian Julia. Setelah jauh, Julia pun meneteskan air matanya.


“jangan khawatir ayah, ibu anakmu akan baik-baik saja. Doakan anakmu agar menjadi anak yang bisa kalian banggakan.. “




1 semester sudah Julia menjalani perkuliahan, hubungan Julia dengan doni baik-baik saja. Namun mengamati hubungan teman-temannya dengan pacar mereka tidak bisa bertahan, Julia menjadi khawatir akan nasib hubunganya dengan doni ke depan.


“jul, kamu hebat banget bisa bertahan dengan pacarmu..!”

Ucap vizha temen sekamernya di asrama, begitu juga dengan Irma memberi pesan.


“ya jul, pertahankan yah jangan seperti kami, pria-pria disana tidak bisa long distance, mereka ga kece..”


“hehe.. ya mudah-mudahan doaen aja yah”

Jawab Julia dengan nada yang kurang yakin.


Keesokan harinya, ada pesan masuk dari saudara doni. Mengabarkan bahwa doni sedang dekat dengan orang lain. Awalnya Julia tidak percaya dengan pesan tersebut. Namun Julia penasaran, ia bertanya pada teman-teman doni disana tapi ia tidak ingin masalah ini menjadi beban di kuliahnya.

Jawaban teman-teman doni hanya menampiknya. Ada salah satu sahabat dari doni namanya anton, ia juga dekat dengan Julia memberitahukan yang sebenarnya terjadi. Anton tidak ingin mencampuri urusan orang lain, tapi ia merasa kasian pada Julia. Akhirnya anton angkat bicara.


“jul… hal ini jangan menjadi pikiran disana yah. Jul harus sabar disana, yang anton tau doni dan dewi sudah menjalani hubungan semenjak 5 bulan yang lalu.. tetapi kamu tanya baik-baik dulu sama doni. Jangan pake emosi yah.. maaf baru sekarang anton kasih tau..”


Kekhawatiran Julia terjawab sudah. Yang ia lihat saat doni dan dewi jalan itu ternyata memang benar mereka sedang dekat. Julia bertanya pada doni, namun doni selalu menampiknya. Setelah Julia mengutarakan kesaksian anton. Akhirnya doni mengakui hubungannya dengan dewi sudah berjalan Selama 5 bulan.


Julia pun memutuskan hubungannya dengan doni pada saat itu juga. Tanpa lama-lama ia berfikir.


“jul, maafkan doni sudah menghianati janjiku pada kamu. Doni laki-laki yang tak pantas untuk kamu tangisi. Ku mohon jangan pernah menangis karena air matamu sangat berharga untuk laki-laki sepertiku. Terimakasih Julia sudah hadir dalam hidup doni, kamu adalah kasih yang terindah. Semoga kamu mendapat laki-laki yang jauh lebih baik dariku… salam maaf untukmu.”


“ya terimakasih…”


Jawab Julia dengan singkat, ia begitu kecewa dengan laki-laki yang sudah dipilih dan dipertahankannya. Hubungan Julia dan doni berakhir dengan kata putus jua. Namun itu tak perlu disesali oleh Julia. Mungkin ia bukanlah laki-laki yang tuhan pilihkan untuknya. Manusia hanya bisa berusaha, berdo’a dan ikhtiar. Namun pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan.




Kabar kandasnya hubungan Julia dengan doni tersebar dengan cepat. Rava yang berada di Jakarta kabar tersebut berhembus ke telingannya. Rava sangat terkejut dan kecewa wanita yang sudah ia relakan, tersakiti jua oleh laki-laki yang sudah dipercaya bisa membahagiakan Julia.


Hati rava tidak pernah berubah terhadap Julia. Mendengar kabar tersebut, ia tidak tega dan ingun sekali menghibur wanita yang ia sayangi. Ia tahu Julia pasti sedang merasakan kekecewaan yang sangat dalam.


“hei gadis kecil.. sedang apa kamu? Sedang mikirin abang yah… hayoo ketauan ni”


“ko tau…. Ya neng emang lagi mikirin abang :P “


Rava merasa sedikit lega, melihat julia masih bisa menanggapi candanya. Rava tahu kalau Julia anak yang tegar, meskipun dalam hatinya sedang bersedih.


“kalau neng mau nangis, abang siap menyewakan bahu abang ko neng…”


“hehe,, tenang aja bang. Neng gapapa ko, malah merasa malu sama abang. mungkinkah ini adalah karma setelah neng menolak abang...hehe”


“jangan pernah memiliki fikiran seperti itu, neng harusnya bersyukur karena neng di beritahukan dengan cepat bahwa laki-laki tersebut tidak pantas untuk neng. Allah akan menyiapkan calon pendampingmu yang jauh lebih baik dari laki-laki tersebut”


“makasih ya bang… J”


Setelah penolakan di waktu kemaren, Kini rava berani memunculkan diri pada Julia karena Julia bukan lagi milik orang lain. Niat dia mengucapkan janji di hadapan Robb dan manusia lain untuk menjaga Julia selamanya tidak pernah pudar.




Hari minggu yang luang, setelah berhari-hari disibukan dengan tugas, laporan dan kuliah Julia berencana untuk beristirahat penuh. Banyak teman yang mengajaknya keluar, namun Julia adalah salah satu anak yang tidak menyukai keramaian ia lebih sering menggunakan waktu luangnya untuk beristirahat dan menonton di kostan.


Waktu bagian barat menunjukkan Pukul 08.00, Julia sedang mempersiapkan tempat dan makanan untuk acaranya menonton. Hal ini kebiasaan Julia sebelum menonton, tak lama ponsel Julia bordering.


“neng dari taman topi menuju tempat neng naik apa?”

Julia merasa heran dengan pertanyaan yang di kirim dari seseorang yang ia rindukan, rava.

Ttriiiiinggg……triiiiiiiiggggg… nada panggilan masuk.


“assalamualaikum…”


“ya wa’alakumsalam”


Jawab julia masih setengah percaya kalau orang yang menelfon itu rava.


“ko jawabnya lama banget neng, kalo udah nyampe situ harus naik apa lagi neng?”


“hmmm… na naik 03 nyampe laladon, terus kampus dalam turunnya di berlin.”


Julia masih bingung kenapa rava barusan nanya tempat julia di Bogor. Setelah itu tidak ada kabar lagi. Satu jam kemudian ponsel julia bordering lagi.


“neng kamu dimana? Abang udah di berlin cepet kesini yah!”

Tuuuttt…tuuttt… telfon berakhir. Julia masih tidak yakin kalau rava benar-benar ada di berlin. Takut rava menunggu lama dengan penuh keraguan julia menuju berlin, tempat rava menunggu.


Di sebelah kanan pojok, berdiri seseorang yang sepertinya sudah lama tidak bertemu menggunakan celana bahan, kemeja garis-garis lengkap dengan sepatu yang senada memubuat pria itu semakin berkarisma.


Julia yang memakai celana jenz, baju coklat lengkap dengan jilbab bunga-bunga membuat gadis itu terlihat manis.


“hai neng.. akhirnya kita telah dipertemukan lagi atas izinnya”


Dengan mengulurkan tangannya, rava ingin berjabat tangan dengan gadis kesayanannya. Namun julia masih dengan muka yang banyak pertanyaan apa maksud yang dilakukan rava.


Rava mencoba menyadarkan julia dengan mengusap kepala yang biasa dilakukan ketika bertemu julia. Segera julia sadar bahwa yang di depanya adalah rava.


“ini benar abang?”


“hahaha… ya ini abang emang neng kira siapa?neng abang kesini ada yang ingin abang sampaikan.”


“ko serius banget bang?”


“ya…”


Rava menarik tangan julia dan membawanya ke tempat yang indah. Rava bukanlah pria yang romantic,  namun ia berusaha untuk menjadi pria yang bisa romantic yang biasa dilakukan pria lain untuk membahagiakan wanita. Diam-diam ia menghubungi teman sekantornaya yang tinggal di Bogor untuk di tunjukkan tempat yang paling bagus. Yang dilakukan julia hanya mengikuti kemana rava akan membawanya. Ia sungguh tidak tau apa yang harus dilakukannya.


Tiba di sebuah tempat yang tidak pernah julia kunjungi sebelumnya, meskipun sudah dua tahun ia berada di kota hujan ini. Tempat yang begitu indah, terdapat meja dan dua tempat duduk yang selaras menghadap pemandangan yang cantik.


“jul, abang minta maaf atas kelancangan abang yang membawamu kemari tanpa bertanya terlebih dahulu”


“ya bang gak apa-apa ko, tapi julia masih belum ngerti dengan semua ini bang… kanapa abang membawa neng kemari? “


“abang tadi bilang ada yang ingin abang sampaikan pada neng, Neng suka ga tempat ini?”


“neng suka banget ko tempat ini, baru kali ini neng ke tempat yang begitu indah… J”


Rava merasa senang dengan pernyataan julia, rencananya untuk membahagiakan julia tercapai.


“neng izinkan abang untuk mengatakan niat abang kemari. Abang tau neng baru saja mengalami kerusakan dalam hubungan, semoga semua itu bukan halangan untuk bisa mengungkapkan niat tulus abang membuat bahagia neng. Pernah sebelumnya abang katakan semua isi hati abang pada neng. Perasaan itu tidak akan pernah hilang semenjak abang berjanji untuk menjagamu sampai sekarang dan selamanya. Abang berharap adalah cinta terakhir yang melabuh di hatimu, orang yang bisa memberimu kebahagiaan dan tertawa bersama untuk selamanya. Kali ini abang tidak mengajak neng untuk berpacaran. Tapi niat abang adalah bisa menuntunmu menjadi wanita yang sholehah di perjanjian kita di depan Tuhan dan semua orang yang hadir dalam acara pengikatan kita. Abang ingin meminangmu dengan Bismillah neng. ”


Setiap wanita akan mengeluarkan air matanya ketika ada seorang pria yang mengajaknya ke dalam sebuah perjanjian untuk saling menyayangi selama hidupnya. Begitu juga dengan julia, ia meneteskan air matanya setelah mendengar rava mengungkapkan kata-kata yang di tunggu oleh setiap wanita. Rava adalah seeorang yang selalu ada ketika julia baik sedang sedih mupun bahagia. Meskipun selama 5 tahun tidak saling bertemu, hati mereka masih sama semenjak mereka bersama di waktu kecil. Selama itu pula rava diam-diam mengamati perkembangan julia yang jauh darinya.


Ketika rava mengungkapkan niat tulusnya, julia sedang menjalani studinya yang masih berada di tingkat 3 sehingga julia harus menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.


Rava dan julia berkomitmen, mereka akan saling menunggu dan menjaga hati mereka. Mereka akan bertemu 4 tahun kemudian di panggung pelaminan dimana rava akan melakukan ijab Kabul di depan semua orang sesuai dengan harapannya.


“ya Robb,,,

 rencanamu begitu indah untuk hamba sepertiku. Telah Kau kirimkan laki-laki yang begitu baik, laki-laki yang selalu ada di setiap ku membutuhkannya. Terimakasih telah Kau kirimkan dia untukku dan memutuskan hidup bersama denganku. Ini adalah tadir yang tersuratkan dari-Mu di lauhul mahfuzh yang sangat indah”


semoga mereka  menjadi pasangan yang mawaddah, warokhmah  dan hidup bahagia sampai maut memisahkan mereka, selamanya. Aamiin

*JuneAbbas 
Instagram : @Juneabbas24 
Alumni Universitas Pertanian Bogor, Jurusan Teknologi Industri Pertanian 
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Takdir yang Tersurat Rating: 5 Reviewed By: mindis.id